A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Recently Lyrics Updated


Kebesaran RA Kartini ada pada gagasan-gagasannya. Dia patut dikagumi karena sesungguhnya ia tidak hanya bicara tentang hak-hak dan pembebasan kaum perempuan. Lebih luas dari itu, ia bicara tentang banyak hal menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk soal narkoba yang saat ini sudah sangat meresahkan. Dan ide-idenya itu sungguh melampui zaman sehingga masih relevan dijadikan pedoman untuk generasi kini.


Berikut beberapa pemikiran Kartini dikutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armin Pane (Cetakan Kedua Tahun 2938). Gagasan-gagasan ini, jika dihayati dan dipedomani, niscaya akan lahir sebuah kehidupan masyarakat yang indah sebagaimana dicita-citakannya itu:

1. Di negeri saya ini adakah suatu kutuk, lebih jahat lagi daripada minuman keras itu? Candu! Alangkah sengsaranya negeri bangsaku oleh benda laknat itu, tiada dapat dikatakan. Candu itu penyakit sampar pulau Jawa. Bahkan lebih ganas dari sampar itu. Dan benar juga kata orang; candu itu tiada jahat, selama ada uang pembelinya, sedang badan sudah menjadi hamba madat, maka sangat berbahayalah orang itu, celakalah dia! Oleh perut lapar orang jadi pencuri, tapi oleh tagih akan candu orang menjadi pembunuh. Kata orang di sini: Mula-mulanya madat itu jadi nikmat bagi engkau. Dan perkataan itu sungguh-sungguh benar! (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

2. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri, dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyakkah dosa diperbuat orang atas nama agama itu? (Surat kepada Nona Zehandelaar, 18 November 1899).

3. Ya, Stella, aku tahu, bahwa di Eropah pun keadaan kesusilaan laki-laki amat buruk jua. Serta dengan kau, aku mengatakan segala puji kepada anak muda yang menjauhi adat kebiasaan yang sudah berkarat, dan godaan itu, aiblah bagi gadis masa sekarang, dengan sadarnya mengikuti laki-laki yang hidup cemar. (Surat kepada Nona Zehandelaar, 23 Agustus 1900).

4. Kadang-kadang, alangkah sukarnya memastikan di mana pangkal kejahatan. Jikalau dipikirkan dalam-dalam, yang baik dan yang jahat tiada kelihatan batas antaranya. (Surat kepada Nona Zehandelaar, 20 Mei 1901).

5. Setia, ialah kata bersahaja, tetapi alangkah besar dan dalam maksudnya! Lebih daripada cinta; kerapkali, akan menepati janji setia, haruslah hati lebih teguh lagi. Aduhai, hati yang berdebar di bawah warna biru itu, tetap dapat menjunjung dia, dan yang warna semboyannya ada kami pakai, dia yang bernama: setia. (Surat kepada Nyonya bendanon, 8-9 Agustus 1901).

6. Bila aku jadi guru pada sekolah yang jadi tempat tumpangan murid, sekali haruslah aku sehari-harian bergaul memelihara anak-anak itu, pada malam haripun ya, hingga larut malam tiadalah aku akan bebas, karena anak-anak itu dipercayakan kepadaku. Beratlah kewajiban orang yang jadi kepercayaan, besar pulalah pertanggungannya. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 30 September 1901).

7. Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: hormatilah segala yang hidup, baik tidak terpaksa baikpun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti mahluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 30 September 1901).

8. Alangkah bahagianya laki-laki, bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, yaitu bila dia bukan orang yang picik pemandangannya dan angkuh. (Surat kepada Tuan Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901).

9. Bila kita menaruh kasih sayang, wajiblah kita bergirang hati benar dan mengucapkan syukur, bila kekasih kita itu banyak-banyak kasih yang dilimpahkannya, maupun yang diterimanya, bukan? Bila kita menaruh kasih sayang, harapan kita yang sebesar-besarnya, ialah supaya kekasih kita itu berbahagia. Dan berbahagialah orang yang banyak menarih kasih sayang, dan yang banyak dikasihi orang. (Surat kepada Nyonya Abendanon, 21 November 1902).

10. Kerap kali saya berseru kepada orang lain, "Janganlah berputus asa, dan jangan menyesali untung, janganlah hilang kepercayaan hidup. Kesengsaraan itu membawa nikmat. Tak ada yang terjadi berlawanan dengan Rasa Kasih. Yang hari ini serasa kutuk, besoknya ternyata rahmat. Cobaan itu adalah usaha pendidikan Tuhan." (Surat kepada Nyonya Abendanon, 4 Juli 1903).

Itulah beberapa nukilan surat RA. Kartini yang saya kutipkan agar kiranya bisa dibaca generasi baru yang belum pernah membaca buku-buku berisi surat-surat Kartini. Dan lebih dari itu, kutipan-kutipan itu saya pikir sangat indah dan masih sangat kuat relevensinya dengan kehidupan masa sekarang. (Panda MT Siallagan)***

Oleh Panda MT Siallagan

Peri-peri asmara
Ilustrasi/Internet
Tahun ini kita dikejutkan sejumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak yang menggelinding hingga ke istana. Ulasan tentang hukuman terhadap pelaku bergulir amat panjang. Dan, kebiri menjadi tema lazim. Betapa memalukan sebetulnya: pemotongan alat kelamin diperbincangkan sedemikian vulgar.

Saya ringkaskan sebuah kisah: Humbert Humbert (selanjutnya disebut H.H) dan Annabel saling jatuh cinta pada usia yang sangat belia. H.H berusia 13 tahun, lebih tua beberapa bulan dari Annabel, sang peri asmara. Betapapun rapuh kisah-kisah hati permulaan semacam ini, tapi ia bisa sangat gila dan mengetengahkan dua jalur berbahaya: kehancuran atau kedewasaan.

Seperti itulah pengakuan H.H, perasaan saling memiliki itu telah membuat mereka gila dan hanya bisa dihentikan dengan perbauran seluruh jiwa dan raga antara keduanya. Gampang diduga, H.H dan Anabella kemudian terjebak dalam percobaan-percobaan liar tentang bagaimana gelegak yang merusakkan jiwa itu diekspresikan. Dan secara alami, Humbert dan Anabella sampai pada pengalaman spiritual, tentang bagaimana dan mengapa mereka hadir di dunia yang penuh misteri ini.

Singkat simpul, mereka seolah tiada lagi terpisahkan dan hanya akan mampu menatap dunia dalam kebersamaan yang sesunggguhnya tiada harapan. Sebab, pertemuan emosional yang mereka perankan itu adalah neraka bagi orang-orang yang melihat pasangan itu sebagai bocah. Dan demikian adanya: mereka memang bocah yang baru saja menemukan alamnya yang mengerikan, sekaligus membahagiakan, dan kita menyebut mereka sebagai monyet dengan cap ‘cinta monyet’.

Di tengah ekstase yang membubung itu, otak dan jiwa H.H tiba-tiba pecah dan retak, sebab Anabella meninggal diserang tifus, empat bulan sejak mereka saling jatuh cinta. H.H tertinggal, terdampar dalam sepi yang gerun sebagai pangeran kecil yang tak punya pijakan untuk sekedar menjerit atau berteriak. Siapapun dapat memahami, betapa tak tertanggungkan luka itu. Dan H.H tumbuh dalam rasa sakit yang tak bisa dipahaminya selama-lamanya.

Sejak itu hingga H.H dewasa, retakan itu terus membayang-bayangi hidupnya dan sesosok hantu mengerikan lahir secara alami dalam jiwanya: ia terobsesi pada Annabel yang bocah, dan ia tak bisa lagi mencintai wanita dewasa. Ia bisa merasa jijik pada pada wanita-wanita anggun berbau parfum, tapi setiap menyaksikan gadis kecil seusia Annabel, jiwanya menyala seperti api yang siap menggilas segala yang mungkin terbakar. Meski sekuat-kuat kesadaran ia meredam dosa memalukan itu, tapi pada akhirnya ia kalah, remuk dan tak berdaya, dan ia tahu: eksistensinya sebagai manusia terjerembab dalam getaran-getaran dasyat setiap bertemu dengan gadis-gadis kecil, yang kemudian ia namai: peri-peri asmara.

Maka kita kemudian mahfum, alangkah bahagia H.H menyaksikan gadis-gadis kecil itu bergerombol ketika pergi dan pulang sekolah, betapa rindunya ia pada Annabel yang anggun dalam ingatannya yang penuh derita. Ia sempat menikah dengan seorang wanita bernama Valeria, tapi rumah tangga itu segera berakhir karena Valeria memilih pergi bersama pria lain.

Ketika usia H.H menginjak 40 tahun, ia bermigrasi ke Amerika, dan malapetaka Annabel itu sepertinya tak akan berakhir. Ia jatuh cinta kepada gadis bocah bernama Lolita, putri induk semangnya. Sementara di lain pihak, induk semangnya yang sudah janda itu jatuh cinta padanya dan baginya itu sangat memuakkan. Tapi, agar selalu bisa berdampingan dengan Lolita pujaan hatinya, H.H bersedia menikahi ibu gadis itu. Dan takdir berpihak padanya, ibu si gadis meninggal dalam sebuah kecelakaan.

H.H menemukan impiannya yang sesungguhnya, dan membawa anak tiri sekaligus kekasihnya itu berkelana mengelilingi Amerika, menikmati cinta terlarang yang getir, kontroversial, dan penuh dengan saputan rasa takut. Selama dua tahun H. H bersama Lolita berkelana dari satu tempat ke tempat lain, hidup dihantui rasa cemburu yang tak tertanggulangi, hingga gadis itu akhirnya melarikan diri.

Dua tahun lebih H.H menghabiskan waktu mencari gadis itu. Dan ketika mereka bertemu lagi, Lolita sudah menikah dan sedang mengandung anak pertamanya. Pada bagian inilah H.H sadar bahwa ia tidak hanya mencintai Lolita sebagai anak kecil berusia dua belas tahun, tapi benar-benar mencintai Lolita tanpa hitung-hitungan usia.

Kisah berakhir dengan sebuah aksi pembunuhan. Ya, H.H membunuh suami Lolita yang menyia-nyiakan kekasihnya. Tapi bagaimanapun, H.H bukan seorang hipokrit berhati keji. Ia mengakui dirinya sebagai pengidap pedofilia buas yang sewaktu-waktu dapat merusak kehidupan gadis-gadis kecil, dan untuk menahan kebuasan itu, ia sudah berpengalaman menanggung derita, seperti diakuinya: Aku tahu benar apa yang kulakukan dan bagaimana melakukannya tanpa menodai kesucian seorang bocah. Aku yang berpengalaman dalam kehidupan pedofiliaku, yang angan-angannya terasuki peri-peri asmara yang bertebaran di taman-taman, telah menahan kuat-kuat kebuasanku di sudut sebuah trem yang paling panas dan paling padat disesaki anak-anak sekolah.

Pengakuan H.H terkisah secara menakjubkan dalam novel berjudul Lolita, gubahan Vladimir Nabokov, sastrawan dua negara yang sangat bertentangan. Nabokov lahir di St Petersburg, Rusia, dan menjalani hidupnya sebagai putra pejabat kaya pengikut Kaisar. Proses kreatif kesastraan Nabokov jauh-jauh hari sudah terbentuk secara mapan di Rusia, lalu ia hijrah ke Amerika. Lolita ditulis setelah ia berada di Amerika. Novel kontroversial ini sempat dilarang beredar di Amerika, tapi pada akhirnya, Lolita dianggap menjadi salah satu novel terbaik di dunia.

H.H, tokoh utama dalam novel itu, saya ketengahkan untuk direnungkan dan nyatalah bagi kita: pedofilia dilatari peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa dan sesungguhnya, perasaan cinta yang senantiasa menggebu pada gadis-gadis cilik tidak lahir bersama hasrat kekerasaan. Tapi, sebagaimana bisa kita tangkap dalam kisah ini, pengidap pedofilia yang ditolak secara membabi-buta di tengah-tengah masyarakat, telah menjadikan mereka jadi pecinta yang dipenuhi rasa takut, mahluk amoral yang gila dan harus disingkirkan dari muka bumi ini.

Maka ketika tak ada jalan dan ruang pembenaran bagi cinta mereka atas gadis-gadis cilik, mereka melakukannya dengan kekerasan yang dipenuhi rasa putus asa: menunaikan cinta sekaligus mengakhirinya dengan kepasrahan pada maut. Maut pada kekasih hati, sekaligus maut pada diri sendiri.  Sekarang mari bertanya, mengapa Negara mewacanakan kebiri sebagai hukuman bagi mereka? Mengapa tak ada upaya menghormati kenangan traumatis yang menyebabkan gangguan kejiwaan itu muncul? Mengapa diskusi tentang hal itu serasa tersingkir?

Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1955 di Paris, Perancis, dan itu menunjukkan kepada kita bahwa Pedofilia sudah ada sejak setengah abad atau bahkan ratusan tahun silam, dan Indonesia baru saja digemparkan dampaknya yang mengerikan beberapa bulan belakangan ini. Pada akhirnya, saya ingin mengatakan hal sederhana: andai para elit dan tokoh-tokoh bangsa membaca sastra, barangkali tak perlu ada wacana memalukan soal kebiri, kita barangkali hanya perlu membentuk ruang-ruang yang lebih manusiawi untuk mengenal dan menyiasati ihwal kejiwaan tiap-tiap warga. ***

Sumber: Sumut Pos, 5 Juni 2016
Puisi

tak usah terlalu dipusingkan
bagaimana cara menulis puisi
cukup dengan pena di tangan
berjongkok di taman
ada daun jatuh
tulis
ada rumput menghijau
tulis
ada tanah terbakar
tulis
ada anak pipit terjatuh dari sarangnya
tulis
ada bau mesiu
tulis
tulis
tulis
tulis
ada hujan
tulis
ada titik-titik terang
tulis
lalu aduk dengan kelepak
ladam telapak kuda sedikit
cukup cukup cukup
nah ini ada puisi
dalam puisi ini ada bunyi
bunyi kecapi atau cemeti
itu tak penting
dalam puisi ini juga ada bau
bau ubi bakar atau babi panggang
itu juga tak penting
tapi ini puisi berbunyi
tang!

1978

Itu salah satu puisinya. Namanya tak dikenal dalam peta dan kanon kesusasteraan Indonesia. Tapi barangkali, sejumlah penyair Indonesia pernah mengenalnya dengan baik. Barulah setelah ia meninggal banyak orang membicarakannya, terlebih setelah bukunya berjudul Tulis! diterbitkan Penerbit Paseban, Jakarta (2006). Dialah Saut Sitompul, penyair jalanan asal Pematangsiantar, yang tewas secara tragis ditabrak taksi pada dini hari 9 Januari 2004.

Salah seorang penyair Batak terkemuka yang memiliki nama sama, Saut Situmorang, menulis haiku atas tragedi itu. Demikian puisi Saut Situmorang atas tragedi itu:

saut sitompul, haiku

antara aspal dan malam
mabukmu tersisa
jadi Jakarta!

(Jogja,10/02/04)

Sebagai penyair jalanan, Saut Sitompul tentu tak pernah memublikasikan karya-karyanya, baik di suratkabar atau majalah-majalah sastra. Dalam bentuk buku, konon Kongres Kodok pernah terbit, tapi jumlahnya sangat terbatas dan distribusinya tak meluas. Dan memang, jumlah puisi Saut Sitompul tergolong sedikit, hanya ada 75 buah tercantum di buku Tulis! Jumlah itu mengingatkan kita pada maestro sastra Indonesia Chairil Anwar, yang juga hanya memiliki puisi sekitar 70-an judul.


Tentu, tak layak membandingkan puisi-puisi Chairil Anwar dengan puisi Saut Sitompul, bukan karena aspek kualitas, tapi karena memang ciri dan alirannya sangat berbeda. Keduanya eksis di zaman yang sangat berbeda. Namun keduanya bisa bertaut dalam keresahan yang sama atas situasi sosial dan kehidupan pada masing-masing zamannya.

Sebagian orang mungkin menolak menyebut Saut Sitompul sebagai penyair dan lebih sepakat menyebutnya seniman jalanan atau pengamen jalanan. Sekali-dua ia pernah bermain sinetron dan membuat ilustrasi musik untuk film. Selebihnya, ia mengamen di jalanan Jakarta, dari satu bus ke bus lain, dari satu trayek ke trayek lain. Tapi ia mengamen dengan cara berbeda. Ia membacakan puisi-puisinya. Ia juga kerap membacakan puisi di hadapan teman-teman, dan sesekali tampil dalam pembacaan puisi pada acara-acara kesenian atau kegiatan seremonial. Bahkan, dalam acara kebaktian di gereja pun, ia pernah membaca puisi.

Dengan mengamen baca puisi itulah ia menghidupi keluarganya. Sejumlah besar penyair Indonesia mungkin tak pernah benar-benar menghidupi keluarga dengan puisi, tapi Saut telah melakukannya. Pun, ketika sejumlah penyair Indonesia hanya bisa ngomel merutuki rendahnya tingkat kepembacaan masyarakat atas puisi, Saut telah menjemput sendiri audiensnya, membacakan puisi di tempat umum, mengenalkan puisi secara nyata kepada khalayak. Seperti kita duga, hal itu tak membuat kondisi ekonomi keluarganya membaik.

"Stres juga ya. Gimana sih hidupnya seperti ini. Menghidupi keluarga dari teman-temannya, itu tadi, baca puisi itu," ujar istrinya, Lili Girsang, sebagaimana terurai dalam sekelumit tentang Saut Sitompul, di buku Tulis! itu.

Begitupun, Saut tak menyerah. Ia terus menjalani hidup sebagai musisi jalanan. Seperti kita baca, puisi-puisi Saut banyak bicara tentang situasi sosial, kemiskinan, religiusitas, dan juga pergumulan hidupnya sehari-hari sebagai seniman bohemian. Bahasanya lugas. Ia tidak menulis puisi berbentuk kata atau kalimat-kalimat estetis. Ia  sepertinya lebih mementingkan bunyi atau efek musikal, dan sepertinya itu mengalir dari alam bawah sadar untuk mendukung 'pementasannya' sehari-hari. Dan bagi Saut, puisi bukanlah sesuatu yang rumit, seperti tergambar dalam puisi berjudul Tulis di atas. Tapi bukan berarti ia tak bisa menulis puisi indah nan estetik. Simak puisi Saut berikut: 

Perpisahan

tetes angin
namaMU
kutinggalkan dulu
sejak pupus di mimpi purba
s'milir mengendap-endap di pangkuan langit
namaMu
tak kuingat
terkubur di puncak awan
di pucuk nafas yang mengikatku
jarak
berdesir-desir desau nafasku
kuhirup-lupakan
halleluya

Saut Sitompul lahir di Pematangsiantar 9 Februari 1955, dan menghabiskan masa kecil dan masa remajanya di kota berhawa sejuk itu. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis pada dini hari 9 Januari 20104, tertabrak taksi di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Ia meninggalkan seorang istri Lili Boru Girsang dan dua putri, Suri Sitompul dan Tio Sitompul, yang masih duduk di kelas IV dan II SD ketika ia pergi untuk selamanya. Bagaimanapun, Saut Sitompul telah mempersembahkan puisi bernilai bagi sastra Indonesia. Dan untuk alasan itulah saya menuliskan ulang secuil kisahnya. (Panda MT Siallagan)***

Judul Buku: Ombak Sekanak
Penulis: Rida K Liamsi
Penerbit: Yayasan Sagang Pekanbaru
Tanggal Terbit: Juni 2013
Jumlah Halaman: 566 halaman
Jenis Cover: Hard & Soft
Kategori : Otobiografi

Sesekali nafas tercekat. Pada ketika lain, menguar rasa haru yang membuat pikiran berhenti, sekaligus berkecamuk dalam renung, betapa memang bergelombang, sarat arus dan penuh warna. Siapa yang peka terhadap nilai-nilai kehidupan, akan terhempas dalam derai-derai: tawa maupun tangis.

Itulah sekilas luapan ekspresi ketika membaca buku Ombak Sekanak karya Rida K Liamsi yang diterbitkan Yayasan Sagang, Pekanbaru, Juni 2013, sebuah memoar, sebuah buku otobiografi yang dipersembahkan Rida untuk khalayak.

Rida K Liamsi dikenal sebagai guru, wartawan, budayawan, seniman, sastrawan dan pengusaha sukses. Kini ia menjadi chairman Riau Pos Group yang mengelola kelompok bisnis media di bawah bendera Jawa Pos Group. Group Riau Pos sendiri mempunyai bisnis media yang tersebar di Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.

Metro Siantar merupakan salah satu surat kabar dalam kelompok yang dipimpinnya. Metro Siantar sendiri kini berkembang menjadi 4 surat kabar. Tiga lainnnya: New Tapanuli, Metro Tabagsel dan Metro Asahan, berada di bawah naungan Divisi Regional Medan, bersama-sama dengan Sumut Pos, Posmetro Medan, dan Rakyat Aceh. Selain surat kabar, Riau Pos Grup juga memiliki beberapa TV lokal seperti Riau Televisi, Batam Televisi, serta Padang Televisi.

Dalam konstelasi sastra Indonesia, Rida K Liamsi termasuk penyair penting. Ia telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi seperti Ode X (1971), Tempuling (2004), Perjalanan Kelekatu (2008), dan kumpulan puisi dwibahasa Rose (2013). Rida K Liamsi juga sudah menerbitkan novel, Bulang Cahaya (2007). Dan paling mutakhir adalah Ombak Sekanak (2013).  Di buku kumpulan Tempuling, Ombak Sekanak merupakan salah satu judul puisi yang terkandung di dalamnya. Rida juga banyak menulis esei-esei tentang kebudayaan, dan kerap menghadiri event-event sastra skala internasional seperti festival penyair Korea-ASEAN di Korea Selatan dan Festival Penyair Srilanka.

Banyak khalayak penasaran, siapakah Rida K Liamsi yang bisa sukses menjadi Raja Media di Sumatera Bagian Utara, tapi juga berhasil menjadi seniman dan budayawan ternama? Kehidupan seperti apa yang telah berlaku atas sosok ini, sehingga ia mampu meraih banyak cita-cita secara seimbang dan sama-sama bersinar?

Ombak Sekanak bisa menjadi jawaban sekaligus referensi untuk memahami sejarah tokoh Melayu ini. “Judul ini saya pilih untuk menandai geliat dan percikan perjalanan hidup saya yang bagaikan ombak mengalun dari tanah Sekanak, tempat saya lahir dan dibesarkan, menuju ke samudera dan gelora kehidupan di rantau orang. Tumbuh, berkembang, jatuh bangun, sakit senang dan berjuang untuk memberi arti bagi tiap hela nafas, tiap sayatan musim yang diberikan Allah. Sebisanya, seridha-Nya. Hidup memang begitu indah, tetapi juga begitu penuh tantangan, yang membuat kita jatuh bangun bersamanya,” demikian Rida K Liamsi mengantar memoar Ombak Sekanak.

Rida K Liamsi tumbuh dan besar di kampung Bakong,  Singkep, Kepulauan Riau. Bakong terletak di bibir pantai yang sebagian berpasir putih dan sebagian dipenuhi hutan bakau yang berlumpur. Tapi kampung itu akrab disebut sekanak, negeri yang tak bisa dikalahkan. Nama sekanak dilekatkan pada Bakong, konon menurut cerita para tetua, karena kampung itu didirikan orang-orang yang berasal dari sebuah tempat bernama Sekanak di Palembang. Mereka datang membangun pusat pertahanan setelah habis diserang Majapahit. Mereka tentu turut membawa adat dan tradisi mereka.

Dalam situasi kampung yang demikian itulah Rida hidup pada masa kanak-kanak. Ayahnya seorang dai, selalu bepergian ke daerah-daerah untuk mengajar anak-anak mengaji dan sembahyang. Rida mengenang ayah sebagai lelaki pendiam, tapi keras dan teguh pada prinsip, jarang sakit dan tegar seperti batu karang. Rida tumbuh meneladani karakter-karakter bersahaja ayahnya.

“Orang hidup ini, jangan setengah-setengah. Kau kelak, kalau mau sekolah, ya sekolah. Jangan setengah-setengah. Hidup ini tak boleh takut. Kalau ada apa-apa ya berserahlah kepada Tuhan,” itu petuah sang ayahanda menghunjam saat Rida akan berangkat sekolah ke Tanjung Pinang.

Demikianlah hidupnya mengalir. Ia kemudian menjadi guru sembari mengaktualisasikan bakat seninya. Ia sebenarnya ingin jadi seorang pelukis, namun entah bagaimana sastra memanggilnya lebih karib. Saat memulai karir sebagai guru, saat terjadi konfrontasi Indonesia dan Malaysia, gaji guru tak mencukupi karena harga-harga sangat tinggi akibat dampak konfrontasi. Rida lalu memutuskan untuk beralih jadi kelasi kapal, berlayar mengarungi laut di sekitar Singkep, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Bangka dan sekitarnya.

"Aku belajar memikul goni berisi arang bakau yang beratnya rata-rata 30 kg. Hari-hari pertama aku melakukannya, bahuku menjadi lecet dan merah. Mengelupas. Memar. Berminggu-minggu pedih rasanya. Juga telapak tanganku…” ujar Rida (hal. 57)

Setahun lebih Rida bergulat dengan laut, hingga akhirnya berhenti. Ia meninggalkan kapal karena kesedihan mendalam. Sebab, pada saat kapalnya berlayar, ayahnya meninggal dan ia memutuskan kembali ke daratan. “Jangan-jangan nanti saat aku berlayar, ibuku pula yang pergi ke pangkuan Illahi,” katanya.

Ia kemudian mencoba melamar ke pertambangan timah, tapi sedang tidak ada lowongan. Akhirnya, ia bekerja sebagai karyawan toko buku di Dabo Singkep, milik Habib Al Idrus, orang Malaysia keturunan Arab. Ketika bekerja di toko buku itulah ia kembali bergabung dengan teman-teman semasa sekolah. Dan tentu saja, ketika di toko buku itulah dia punya kesempatan membaca banyak buku-buku secara gratis, termasuk berkenalan lebih dekat dengan pujaannya Chairil Anwar dan Bung Karno melalui bacaan. Tak lama di toko buku, dia kembali jadi guru. Dia aktif lagi menulis dan berkesenian, hingga kadang-kadang menelantarkan tugas-tugas sebagai guru. Saat itu, Rida menggunakan nama pena Iskandar Leo. Nama Iskandar Leo inilah yang dulu berkibar sebagai penyair. Rida K Liamsi sebenarnya bernama asli Ismail Kadir. Rida K Liamsi adalah bacaan terbalik dari Ismail Kadir. Nama Ismail Kadir inilah yang dikenal sebagai. Sebagai penyair ia bernama Iskandar Leo, dan sebagai wartawan hingga pengusaha sukses, ia dikenal Rida K Liamsi hingga kini.

Pada usia 26 tahun, Rida menikah dengan Asmini Syukur, yang juga berprofesi sebagai guru. Banyak tantangan yang harus dihadapi pasangan guru miskin ini. Lagi-lagi, Rida memutuskan berhenti jadi guru. Dia lalu menjadi wartawan TEMPO sekian lama. Pada masa di TEMPO itulah ia berkenalan dengan Dahlan Iskan, tapi perkenalan itu mengendap karena Rida kemudian mundur dari TEMPO dan kembali ke Pekanbaru, mengurus surat kabar Genta, surat kabar satu-satunya di Riau ketika itu.

Riwayat bersama Genta juga berakhir. Ia mencoba melamar ke KOMPAS dan Suara Karya, tapi Suara Karya lah yang terlebih dahulu menerimanya. Oleh Suara Karya, Rida ditugas meliput ke berbagai tempat seperti Aceh, Lampung dan kota-kota lain, hingga akhirnya dimagangkan jadi asisten redaktur di Jakarta, lalu dikirim ke Surabaya mengelola halaman khusus Surabaya yang diberi nama Rek Ayo Rek.

Lalu tiba pada 1990, ia ditugasi mewawancarai Dahlan Iskan, terkait kesebelasan Persebaya yang kalah dengan Persib Bandung. Pendukung Persebaya waktu itu bertindak tidak terima kekalahan Persebaya dan meluluh-lantak beberapa stasiun kereta api. Rida akan mewawancarai Dahlan sebagai Manajer Tim Persebaya ketika itu. Dahlan sudah berhasil membangun Jawa Pos, kantornya sudah bagus dan membuat Rida terhenyak. Tapi setelah bertemu di kantor Jawa Pos, mereka berbincang ngalor ngidul, hingga akhirnya lupa atau sengaja melupakan wawancara soal bola. Dahlan malah berkata pada Rida, “Alah, sudahlah itu, Rid. Untuk apa? Ayo kita bikin koran di Riau. Anda berani?”

Itulah mula perjuangan, kerja keras, kepedihan, jatuh bangun, kebahagiaan hingga kemudian sukses. Riau Pos Group kini sudah besar di tangan Rida K Liamsi. 

Dan semua periode itu dilalui dengan sangat sulit, bahkan kadang-kadang menyakitkan, terlebih ketika ia harus berkali-kali meninggalkan istri dan anak-anak selama masa-masa perjuangan. Tentang hal ini, Rida menulis wejangan penuh jiwa dan kesadaran hati yang sangat lembut:

“Di usia yang bertambah, kadang-kadang aku selalu luluh dan menangis saat-saat sujud di hadapan Tuhanku Yang Maha Mengetahui dan Mengakui bahwa aku harus membayar sangat mahal untuk keluargaku ini karena proses perjalanan karirku yang bagai gelombang laut ini. Aku tak tahu sejauh mana anak-anakku kemudian memahami apa arti yang aku lakukan itu. Aku yakin suatu hari, mereka akan paham, mereka akan menyadari bahwa setiap karir, setiap upaya, betapapun kecil, selalu harus punya konsekwensi. Harus ada korban, harus ada yang mengalah, harus ada toleransi dan juga harus ada yang benar-benar sadar dan menanyai dirinya, ‘Apakah semua yang terjadi dan dilakukan itu, adalah yang terbaik untuk kita.’ Untuk anak, istri, keluarga dan mereka yang menjadi bagian dari perjalanan hidup kita ini. Harus ada dan harus mau. Karena akhirnya mereka punya anak. Dan anak-anak itu juga akan segera berhadapan dengan badai kehidupan….” (hal 118).

Demikianlah buku ini dikemas dengan bahasa renyah, ringan dan lancar. Alurnya maju mundur, sehingga meski buku dibagi ke dalam beberapa bab untuk memberikan batasan periode dan kisah-kisah tertentu, tapi seluruhnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa lepas bab demi bab. Tentang Rida di mata para sahabat, juga disertakan tanggapan atau pendapat beberapa tokoh, baik politisi, akademisi, sastrawan maupun seniman.

Buku Ombak Sekanak bersama-sama dengan Rose telan diluncurkan di Ballroom Hotel Aryaduta, Pekanbaru, Sabtu (12/10). Acara dihadiri lebih dari 600 undangan seperti Meneg BUMN Dahlan Iskan  dan para CEO, pemimpin redaksi dan pimpinan perusahaan JPNN se-Indonesia. Selanjutnya, di pelantar De’Patros komplek Harbour Bay, Batuampar, Batam, Sabtu (19/10) malam, kedua buku ini kembali diluncurkan (re-lounching).

Dahlan Iskan Way

Di dalam Ombak Sekanak, Rida K Liamsi mengisahkan, sukses Riau Pos menjadi sebuah grup besar tak lepas dari peran Dahlan Iskan sebagai pemimpin yang mumpuni. Di Jawa Pos Grup, Dahlan mengajarkan bagaimana membangun landasan bisnis media yang baik. Dahlan paling tidak meletakkan 4 prinsip manajemen yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Empat prinsip itu adalah: focus (fokus), care (peduli), creative (kreatif) dan visioner (berpandangan jauh ke depan).

“Kami juga punya satu corporate culture: Kerja Keras, Tumbuh Bersama dalam Kebersamaan. Coporate Culture ini Pak Alwi Hamu yang pertama mencetuskannya. Itulah rahasia suksesnya, itulah kita berkembangnya. Dan aku ada di dalam system ini, sebagai salah satu bagian, saksi dari seluruh pengalaman dan perjalanan bisnis itu. Prinsip manajemen yang diletakkan Pak Dahlan Iskan itulah yang kemudian sering kami namakan Dahlan Iskan Way,” ujar Rida K Liamsi (hal.242-243).

Demikianlah, keberhasilan bukan sesuatu yang diraih begitu saja, bukan sebuah kebetulan, dan bukan hanya retak tangan atau nasib baik. Tapi adalah sebuah kerja keras, sebuah proses manajemen yang digeluti sepenuh hati. “Fokus! Fokus! Fokus,” demikian Rida mengutip Dahlan Iskan.

Dan, tak ada satupun anak perusahaan di Jawa Pos Group dimulai dengan investasi yang besar dan fasilitas berlimpah. Semua dimulai dari kecil, dan yang sederhana. Yang penting berfungsi, mesin cetak bekas, komputer bekas, kantor kecil dan fasilitas yang terbatas. “Yang besar itu semangat dan keyakinan, kata Pak Dahlan. Karena kepedulian terhadap asset yang dimiliki, menjaga apa yang dimiliki, betatapun itu sederhana, membuat kami bisa tumbuh dan berkembang,” tulis Rida.

Pada akhirnya, kreativitas dan sikap pantang menyerah menjadi keharusan yang dikisahkan Rida K Liamsi sebagai implementasi prinsip manajemen, dan tentu saja harus berpikir jauh ke depan.

“Sementara pelajaran bisnis dari Pak Dahlan kini lebih banyak mengalir melalui tulisan-tulisannya yang muncul secara tetap di koran-koran milik JP Group; Manufacturing Hope (memproduksi harapan). Memelihara optimisme untuk Indonesia yang lebih maju. Tesisnya cuma satu: Kerja! Kerja! Kerja! Demi Indonesia!

Buku ini ditutup oleh Maman S Mahayana, kritikus sastra Indonesia terkemuka, yang pada tahun 2009 menjalani tugas mengajar sebagai dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Maman mencoba memahami Rida K Liamsi lewat pembacaan sebuah puisinya berjudul Tempuling. Mahluk apakah gerangan Tempuling? Untunglah, kata Maman, tempuling bisa ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disebutkan, tempuling adalah tombak pendek untuk menangkap ikan besar; menempulingi bermakna menangkap ikan dengan tempuling.

Menurut Maman, tempuling, bagi nelayan (Melayu) dalam konteks menangkap ikan adalah symbol heroisme, setara badik (Bugis), clurit (Madura), rencong (Aceh) dan mandau (Dayak).

Jadi, tempuling bukan sekadar tombak penangkap ikan, Di belakangnya ada kisah tentang kepiawaian seorang nelayan. Dengan demikian, tempuling laksana simbol bagi para nelayan yang sudah sangat berpengalaman. Senjata itu akan mengantarkannya jadi nelayan sejati: jawara. (hal. 534). Dan agaknya, Rida K Liamsi adalah nelayan piawai itu, sang jawara itu. (Panda MT Siallagan)