A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Recently Lyrics Updated


Cerpen Panda MT Siallagan

Rumah mungil berdinding gedek itu dikelilingi beberapa jenis pohon seperti kemiri, jambu air, rambutan, kakao, dan rumpun-rumpun pisang. Agak jauh ke belakang, membentang lahan luas yang sebagian dikelola dan sebagian lagi terbiar. Pada lahan yang dikelola itu, tumbuh beragam tanaman seperti jagung, cabe, ubi dan kacang-kacangan. Tanaman-tanaman itu tampak subur dan berwarna hijau, seperti berkisah tentang kecekatan pemiliknya bercocok tanam. Dan pada lahan yang terbiar itu, melebat beragam rumput dan semak-semak. Sesungguhnyalah ada sejarah luka yang meruap dari rumah, pohon, rumput dan semak–semak itu.

Ilustrasi.
“Masih kaukenangkah kampung itu?” Suara itu menggelegar, menyusupkan segala getar ke dalam dada saya.

”Masih. Saya masih mengenang segalanya. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan luka,” kata saya sambil menutup mata. Saya tidak sanggup menatap sosok asing bermata tajam dan bersuara berat itu. Saya juga tidak paham mengapa ia bisa berada di dalam kamar saya pada malam ini, pada saat hujan menderas. Berkali-kali saya mencubit lengan untuk memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. Dan benar, saya tidak sedang bermimpi. Saya tadi terbangun oleh petir yang menggetar, seolah-olah sebuah martil raksasa telah dihantukkan ke dinding rumah saya. Dan pada saat terbangun itulah saya menemukan sosok itu sudah berada di kamar saya, duduk di salah satu sudut.

”Tapi, siapakah Anda, Tuan?”

”Saya adalah ingatanmu. Maknailah!”

Bedebah! Keangkuhan sosok asing itu membuat saya sangat marah. Tapi, sekejap kemudian, amarah saya reda karena rumah mungil dan kampung itu muncul lagi dalam penglihatan saya. Atapnya penuh dengan daun-daun gugur, seperti telah terjadi angin topan. Di sisi kiri rumah itu, terdapat sebuah kandang yang dirancang dari batang-batang bambu dan di dalamnya hidup banyak ayam. Pada saat saya saksikan, ayam-ayam itu sedang berhamburan dari kandangnya. Jantan-jantannya berkokok, induk-induknya bersegera mencakar-cakar tanah, mencari makanan, dan anak mereka terciap-ciap. Lalu, seorang anak kecil tiba-tiba keluar dari rumah mungil itu, menenteng jagung pipil dan nasi basi, melemparkannya ke halaman. Maka berebutlah ayam-ayam itu menyantap sarapan pagi yang disuguhkan tuannya kepada mereka. Saya kaget. Apakah saat ini hari memang sudah pagi? Dan kekagetan itu makin menggila ketika saya mengamati anak kecil yang memberi makan ayam-ayam itu. Ia mirip seperti saya ketika kanak-kanak.

”Masih lekatkah peristiwa itu dalam ingatanmu?” Sosok itu bertanya lagi, dengan suara yang lebih menggelegar, memporak-porandakan kesadaran saya. Saya mulai merasa takut.

”Masih. Saya masih mengingatnya, Tuan. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan luka,” kata saya sambil berusaha melirik jam dinding: pukul 03.13 WIB. Astaga, hari ternyata masih sangat dini. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar suara katak bersahut-sahutan dan saling memburu dengan gemuruh hujan yang menetes-netes dari genteng. Angin menderu, dan kudengar daun-daun pepohonan saling bergesek, seperti mempersembahkan tarian gaib pada malam. Saya makin tidak paham dengan apa yang terjadi. Saya cubit lagi lengan saya, sakit. Saya benar-benar tidak sedang bermimpi. Tapi, siapa dan untuk apa sosok keparat ini hadir di kamar saya? Apakah ia seorang perampok yang ingin menghabisi nyawa saya tapi terlebih dahulu mempermainkan saya dengan tindakan-tindakan aneh? Tapi, apa yang ia inginkan di rumah saya yang jorok dan melompong ini? Tak ada apa-apa di rumah ini selain kesunyian. Dan, apapun resikonya, saya putuskan menghajarnya. Tapi, ketika saya hendak bangkit dan mendaratkan tendangan di perutnya, ia berkata, “Saya bukan maling”.

Saya tersentak. Saya gemetar. Tubuh dan seluruh tulang-tulang saya terasa panas. Saya menggigil.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka,” suara saya bergetar.

”Saya tidak melukai Anda. Tapi saya adalah luka Anda sendiri. Hayatilah!”

Maka penglihatan saya akan rumah mungil dan kampung itu melintas lagi. Sekarang, seorang wanita separuh baya keluar dari pintu belakang, membawa sapu lidi. Wanita itu lalu menyapu halaman, mengumpulkan daun-daun gugur. Dan ketika wanita itu membakar sampah dan daun-daun gugur pada sore harinya, saya melihat bukan asap yang membubung, tapi semacam kesedihan. Saya mencium bukan uap asap yang meruap, tapi semacam kenangan. Lalu, serpih-serpih kehilangan menguap ke angkasa dan mencoreti langit dengan segala yang habis, terbakar oleh waktu.

”Masih kau ingatkah wanita itu?” sosok asing itu bertanya lagi.

”Tidak.”

”Masih kauingatkah wanita itu?” suara sosok asing itu mengerang marah, seperti tahu bahwa saya sedang berbohong. Saya gemetar, semakin ciut didera rasa takut.

”Ya,” kata saya akhirnya, “Dia bekas ibu saya.” Pada saat itu, saya tiba-tiba merasa sangat sakit, seolah-olah telah ditikamkan ratusan pisau ke sekujur tubuh saya. Dan, rasa sakit itu semakin menggila ketika sosok asing itu mencambuki tubuh saya.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

”Saya tidak melukaimu. Saya hanya ingin menyelamatkan hidupmu dari kutukan.”

Lalu seorang lelaki kurus berkulit legam keluar dari rumah mungil itu. Ia menghampiri istrinya dan berkata, “Tak guna kau bersihkan halaman ini, Istriku. Biarkanlah kesedihan dan kenangan itu berserakan. Tak guna kau membakarnya, sebab masa lalu yang membubung itu akan membuat nafasmu semakin sesak.”

Pada saat itu, lelaki kecil yang memberi makan ayam-ayam itu datang menghampiri suami-istri itu. “Ayah, Ibu, ayam-ayam itu sudah kenyang disuapi tanganku. Mereka mengucap syukur dan berdoa untuk kesehatan Ayah dan Ibu.”

”Kata-katamu beracun benar, Anakku. Kelak, bukan hanya doa binatang yang kau sampaikan menghina orang tuamu. Tapi kau mungkin akan membunuh ayahmu dengan kebuasan binatang.”

”Tidak. Aku tidak mungkin membunuh ayah…”

Penglihatan saya tiba-tiba dibuyarkan oleh sosok asing itu. “Sekarang, kau bahkan tak merasa bersalah setelah bertahun-tahun membunuh ayahmu. Kau juga membiarkan ibumu menderita dalam kesepiannya,” katanya.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

***

HUBUNGAN saya dengan ayah berlangsung seperti sebuah tragedi kebohongan. Saya, anak yang selalu dididik menjadi orang soleh, selalu menangkap kejahatan dan kebusukan justru hadir dalam setiap prilaku ayah, orang yang selalu memberi saya berbagai nasehat. Sejak kecil, mungkin sejak saya ingat saya ada, ayah selalu bercerita pada saya. “Nak, kita hidup di sebuah negeri yang makmur. Negeri yang memberi banyak kemungkinan berbahagia kepada banyak orang. Kelak, jika kau sudah besar, akan kau lihat negerimu ini sesak diserbu para pemburu. Kau juga akan sadar betapa tak jelas batas antara pemburu dan buruan. Pemburu-pemburu itu, anakku, muncul dengan wajah anjing, babi, dan binatang-binatang aneh lainnya. Dan kita adalah buruan itu, manusia-manusia tak berdaya. Jadi, anakku, kau harus bisa jadi lelaki kuat, agar kelak pemburu-pemburu itu bisa kauusir dari tanah kita. Dan ingat, mintalah kekuatan itu dari Allah. Tidak akan terberkati hidupmu jika kau tidak menghadapkan wajahmu kepada-Nya.”

Tapi, suatu malam, kebanggaan saya pada ayah runtuh. Saya selalu ingat peristiwa itu, sebuah peristiwa yang membuat saya terjebak pada perbatasan antara takut dan rasa marah. Semuanya bermula ketika seseorang mengetuk pintu rumah kami. Malam itu, ibu saya sudah tidur. Dan saya yakin, ayah pasti menduga bahwa saya juga sedang lelap memeluk mimpi. Setelah ayah membukakan pintu, saya kemudian mendengar percakapan serius berlangsung antara ayah dan tamu itu. Dari percakapan mereka yang lamat, saya tahu bahwa ayah, bersama tamu itu, sedang berencana merampok tanah seseorang dengan cara yang mungkin hanya mereka berdua yang tahu. Saya memang masih kecil, tapi karena ayah selalu menasehatkan kepada saya bahwa tindakan mencuri dan merampok adalah najis di mata Allah, saya tahu ayah saya telah melanggar sendiri nasehat-nasehatnya. Saya marah, geram, dan ingin sekali menampar ayah. Dan kemarahan itulah kemudian yang mendorong saya mengintip dari lubang kunci untuk mencari tahu siapa gerangan tamu itu.

Astaga, tamu itu ternyata kepala desa. Kemarahan saya makin tinggi. Selama ini, warga di kampung kami selalu menghormati kepala desa itu sebagai orang yang baik, agung dan bertanggungjawab terhadap warganya. Dan, tiba-tiba saja wajah kepala desa itu saya lihat seperti anjing, dan wajah ayah mirip babi. Saya benar-benar menonton percakapan rahasia yang berlangsung antara dua binatang.

Pada hari-hari selanjutnya, saya tidak tahu bagaimana kehidupan kami berubah. Rumah kami yang terbuat dari bambu dan beratap rumbia itu berubah menjadi rumah cantik. Ayah membelikan saya  sebuah sepeda. Ibu saya, wanita molek itu, makin molek karena baju-bajunya makin bagus. Ada kalung emas melingkar di lehernya. Dan pada jari manis dan tangannya, melingkar cincin dan gelang-gelang berkilauan.

”Lihat, Nak, Allah telah memberi berkat yang luar biasa kepada kita. Maka, kau harus lebih taat beribadah, dan teruslah menjadi anak yang tidak tercela di hadapan pencipta. Semua ini berkat doamu, Nak.”

Pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP. Saya tidak mengiyakan nasehat ayah, tapi tidak juga membantah. Tapi, karena sebelumnya saya selalu antusias mendengarkan nasehatnya, ayah dengan segera mengetahui bahwa saya tidak lagi menyimak nasehatnya.

Ayah marah. “Kau sudah mulai menantang ayahmu. Tahukah kau apa hukuman bagi seorang anak yang membantah orang tua?”

Seminggu kemudian, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, saya dikirim ke kota. Supaya saya makin pintar, kata ayah. Supaya saya tahu bahwa tata krama terhadap orang tua harus tetap dijalankan. Dan sejak itu, saya tidak pernah pulang kampung kecuali pada saat saya datang dengan diam-diam ke desa itu dan membunuh ayah saya tanpa seorangpun yang tahu. Saya tidak tahu kenapa saya begitu tega melakukan hal itu. Sebelumnya, saya ketahui melalui televisi bahwa kampung saya selalu disesaki kabut asap yang bersumber dari hutan yang terbakar. Pada kesempatan lain, saya dengar bahwa anak-anak di kampung kami banyak yang mati kelaparan dan sebagian lagi tersiksa didera penyakit. Saya dengar juga bahwa sungai-sungai tidak lagi mengalirkan air, tapi racun. Lalu saya surati ibu saya. Saya tanyakan kepada ibu apa-apa saja yang telah diperbuat ayah sehingga malapetaka itu bisa terjadi. Ibu menceritakan dalam suratnya bahwa ayah melakukannya bersama orang-orang yang dulu dikecamnya sebagai pemburu. Sekarang ayahmu juga tidak sayang lagi kepada ibu. Dia sekarang sudah sering membawa pelacur ke rumah kita, baik laki-laki maupun perempuan, para pemabuk dan orang-orang aneh yang selalu membuat rumah dan kampung kita jadi gaduh. Ibu sedih, Nak. Ayahmu tidak bisa lagi saya nasehati. Ia makin sering menampar ibu. Kalau bisa pulanglah, ibu rindu padamu, kata ibu mengakhiri suratnya. Lalu, saya pulang, membunuh ayah saya. Setelah itu, saya kembali lagi ke kota, mengembara seperti sedia kala.

Setahun setelah kematian ayah, saya pulang menjenguk ibu. Saya temukan ibu sedang sakit. Tubuhnya kurus sekali. Saya sedih. Saya menangis. Tapi, dengan suara lantang, ibu saya meradang. “Pergi kau, anak jahanam. Ketika ayahmu meninggal, kau tidak pulang. Sekarang, setelah kuketahui bahwa kaulah pembunuh suamiku, kau datang. Meskipun orang-orang tidak tahu bahwa kaulah pembunuh itu, tapi Tuhan selalu memberitahu hal itu setiap malam, lewat mimpi-mimpiku. Sekarang, pergilah untuk selamanya. Kau bukan anakku lagi.”

Saya pergi, dan tidak pernah berusaha untuk pulang. Meski begitu, ingatan saya akan kampung halaman selalu membuat saya tersiksa. Tersiksa karena ingatan yang berkelebat itu justru bercerita tentang masa-masa ketika keluarga kami masih miskin, ketika setiap pagi saya harus bangun lebih awal, memberi ayam-ayam makan, lalu pergi ke sekolah. Masa ketika ibu masih rajin menyapu halaman dan memunguti buah kemiri dari bawah pohonnya. Masa ketika ayah sering mengeluh tapi tetap semangat menjalani pekerjaannya sebagai petani. Masa sebelum perampok dan pemburu itu tiba di desa kami dan akhirnya mengajari ayah saya jadi pemburu, perampok dan penjahat yang menyiksa sendiri kaumnya. Masa penuh cinta yang sampai saat ini tak sanggup saya lupakan. Dan, ingatan itu adalah rangkuman. Rangkuman peristiwa yang dimulai dari suatu kehidupan yang murni, merangsek, dan sampai pada kehidupan suatu puak yang terampas, terhempas.

***

DI luar, hujan masih terus menderu. Angin bertiup kencang. Malam menjelang pagi hari ini terasa sangat berisik, seperti sebuah isyarat betapa gaduh hidup yang telah saya pilih. Betapa durhaka dan terkutuk sikap yang telah saya ambil sebagai manusia. Saya kenang lagi masa kecil itu, tanaman-tamaman yang mengelilingi rumah itu, ladang itu, semak-semak itu, ibu-ayah saya, juga orang–orang kampung yang tak pernah bebas dari penjara kemiskinan. Saya kenang lagi pantun-pantun yang selalu didendangkan ibu ketika saya masih kecil. Saya kenang lagi malam-malam di mana ayah saya mengajari saya menggambar perahu. “Nak, coba lukis Lancang Kuning,” kata ayah. Tapi, ketika gambar yang menurut saya sangat cantik itu saya tunjukkan, ayah berkomentar, “Belum sempurna, Nak. Kau lupa membuat motifnya. Itik Pulang Petang-nya mana, Akar Pakis-nya mana?”

Saya kenang segalanya. Saya tiba-tiba menangis. Saya belum pernah sesedih ini. Dan, saya rindu sekali bertemu ayah. Saya ingin pulang menjenguk ibu. Saya berdoa. Inilah untuk pertama kalinya saya teringat kepada Allah setelah melupakan-Nya berpuluh-puluh tahun. Saya sujud.

Dan, tiba-tiba tubuh saya dicambuk. Wajah saya ditampar. Bedebah, siapakah yang berani berbuat kurang ajar seperti ini kepada saya dan di rumah saya?

”Saya, sayalah yang mencambuk tubuhmu,” suara sosok asing itu menggelegar, “Selama ini, saya sudah mendatangi kamu berkali-kali, tapi pintu rumahmu selalu tertutup buat kelembutan. Sudah saya panggil kamu dengan bahasa paling halus, tapi telingamu selalu terkunci. Sekarang saya datang dengan cara yang kamu inginkan. Sekarang saya ingatkan lagi kepadamu: sejahat apapun sesamamu, jangan hakimi. Dan kamu, kamu telah membunuh ayahmu karena kesalahannya. Apa kamu pikir dengan membunuhnya tanahmu akan luhur lagi, puakmu akan berjaya lagi. Sudah saya ajarkan kepadamu segala pengertian dan kasih sayang, tapi kamu tidak mendengarnya. Sudah saya ajarkan kepada kamu bahwa ibu adalah Tuhan di dunia kecil bernama rumah, tapi kamu siksa ibumu sedemikian rupa. Sekarang saya telah datang dengan cara yang kamu inginkan. Rasakanlah!” kata sosok asing itu sambil mecambuki lagi tubuh saya, lebih keras dan lebih cepat. Saya mengerang, menjerit, memohon-mohon ampun kepada sosok asing itu.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

Tapi cambukan itu terus berlanjut. Saya ambruk. Dan segalanya menjadi lindap. ***

Pekanbaru, Agustus 2004

* Cerpen ini meraih Juara II Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun 2004


Cerpen Panda MT Siallagan

Malam ketika wahyu itu mendekat, dia memutuskan tidur lebih awal. Ia pamit kepada istrinya, menyingkir dari lapo yang masih riuh dipenuhi bual hampa para peminum tuak. Ia berjalan gontai menuju kamar di bagian belakang lapo yang hanya dipisahkan selasar pendek. Begitu masuk kamar, ia hempaskan tubuhnya di ranjang kayu berlapis kasur kapuk, rebahan, dan mencoba menenteramkan hatinya yang galau. Ia melirik jam dinding, masih pukul duapuluh satu lewat beberapa menit, berarti masih ada sekitar delapan jam.


Ia mencoba memejamkan mata, tapi ia tahu rasa kantuk justru menjauh. Suara-suara lantang dari mulut peminum tuak, merambat dari ruang depan, seperti turut mengusir kantuk dari kepalanya. Sesungguhnya, ia memang tidak mengantuk. Dia hanya lelah, ingin rebahan sembari mencoba mengingat-ingat kapan persisnya ia mulai meyakini wahyu itu. Tapi ia tidak ingat. Ia hanya selalu yakin, suatu saat dia akan pergi menemui seseorang tepat pada hari dan jam yang ia pikirkan.

Lalu, ia mulai berpikir mengapa malam itu ia tiba-tiba ingin minum tuak, sehingga batuknya kambuh dan perutnya melilit-lilit. Ia tidak sedang menghadapi suatu persoalan, tapi ia ingin sekali membakar dadanya dengan alkohol, agar ia mampu melupakan kesedihan. Tetapi, ia juga tidak tahu apakah ia benar-benar sedang bersedih atau justru riang. Istrinya mengingatkan dengan keras agar ia jangan minum, sebab jauh lebih baik tuak yang diteguknya pindah ke perut pelanggan,  lebih mendatangkan untung. Tapi ia tidak peduli. Ia ingin waktu yang ia pikirkan segera tiba, lalu pergi menemui seseorang itu.

Tetapi, di atas ranjang, dia mulai bertanya-tanya, siapa sesungguhnya orang yang akan ditemuinya itu? Mengapa keanehan itu merasuki pikiran dan begitu kuat diyakininya? Apakah karena ia mabuk? Apakah ia mulai tidak waras? Tidak, ia tidak mabuk, ia yakin ia masih waras, dan ia memang sudah sejak lama ingin menemui seseorang itu. Tapi di manakah dia akan menemui seseorang itu? Adakah petunjuk yang akan menuntunnya menuju sebuah tempat di mana seseorang itu menunggunya? Sedemikian gilakah aku? Ia mulai merasa tidak tenang.

Untunglah, saat ia dikepung kekalutan itu, sayup-sayup ia dengar istrinya menutup pintu dan jendela lapo. Tuak tentu sudah tandas dan semua parmitu berarti telah pulang. Tiba-tiba ia merasa aneh lagi. Jika sebelumnya ia tidak pernah berpikir ke mana parmitu pergi setelah mabuk, malam itu ia mulai memikirkannya. Beberapa mungkin pulang ke rumah, lalu membentak-bentak istrinya karena terlambat membuka pintu atau menghidangkan makanan. Sebagian berkeliaran di jalanan, berteriak-teriak menganggarkan dada. Dan sisanya mungkin pergi ke rumah-rumah bordil, bermesum ria dengan lonte kelas kuli. Ia mulai merasa bersalah.

“Belum tidur, Bang?” suara istrinya saat masuk kamar.

Ia tidak menjawab. Ia memang ingin mengatakan sesuatu kepada istrinya, tapi ia ragu. Ia tidak ingin istrinya sedih. Tiba-tiba ia rindu sesuatu, tapi ia tidak tahu apakah sesuatu itu sebuah tempat di masa lalu atau sebuah cita-cita yang gagal diraih. Ia tahu, sudah sangat lama pikirannya tidak pernah cengeng serupa itu, sudah sangat lama ia berhenti berhasrat dan bermanja dengan angan-angan. Tapi ia juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Saat istrinya turun ke ranjang, merebahkan tubuh di sisinya, dan bergayut manja di lengannya, dia akhirnya bicara sambil terbatuk-batuk.

“Sayangku, besok subuh aku harus pergi.”

“Ke mana?”

“Menemui seseorang.”

Istrinya diam. Sesungguhnya ia ingin istrinya bertanya siapa seseorang yang akan ditemuinya. Tapi ia mahfum, selama mereka hidup bersama, ia selalu mengajari istrinya tidak campur urusan lelaki. Ia melarang istrinya banyak bertanya tentang hal-hal yang dilakukannya. Maka wajar, hingga malam itu, istrinya tidak pernah tahu siapa sesungguhnya lelaki yang dianggapnya suaminya itu.

“Besok subuh kalau kau sedang lelap, aku mungkin tidak akan pamit,” katanya.

Lagi-lagi istrinya diam. Sebab sudah sering begitu. Jangankan subuh, suaminya bahkan kerap pergi tengah malam atau dinihari jika tiba-tiba ponselnya berdering. Dan istrinya tidak pernah peduli, sebab beberapa hari kemudian, suaminya pasti pulang dengan selamat, membawa uang untuk bekal kehidupan mereka. Tapi malam itu, ia sungguh berharap istrinya peduli, terlebih setelah beberapa tahun terakhir, hal seperti itu tidak pernah terjadi lagi. Sudah tiga tahun, tepatnya, ia tidak pernah lagi pergi, sejak mereka membuka lapo tuak dan hidup dari untung dagang yang tak seberapa. Ia ingin istrinya bertanya kenapa dan untuk apa dia pergi. Tapi ia tidak mendapatkan pertanyaan itu. Beberapa menit kemudian, ia lihat istrinya sudah mendengkur.

Malam itu ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus bergerak, memikirkan satu hal ke hal lain, mengingat satu kenangan ke kenangan lain, tapi ia tidak bisa menyimpulkan hal penting apa yang dapat ia petik dari kekacauan jiwa yang berlangsung sepanjang malam itu. Ia benar-benar gelisah. Untunglah subuh tiba, ia lirik jam menunjuk pukul 05.00 WIB.

“Sudah waktunya,” ia bergumam sembari mengecup kening dan bibir istrinya, lalu beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar, membuka pintu secara perlahan, lalu pergi tanpa mandi dan cuci muka apalagi sikat gigi. Ia juga tidak membawa sepotong pakaianpun sebagaimana biasa ia lakukan setiap kali pergi.


Begitu keluar dari rumah, ia berjalan menyusuri gang menuju jalan besar di mana dia bisa menyetop angkutan. Suasana masih sepi. Angin subuh terasa sangat dingin. Dari dapur beberapa rumah, ia mendengar gelas dan piring-piring berdenting, juga suara berisik penggorengan. Dari tempat-tempat yang jauh, kokok ayam bersahut sambung menyambung, sesekali anjing menggonggong di ujung gang.

Setelah berjalan beberapa menit, ia tiba di persimpangan jalan besar. Ia berdiri sejenak menunggu angkutan, tapi tak ada satupun yang melintas. Ia heran kenapa sepagi itu opelet belum muncul. Ia sedikit jengkel, sebab dia ingin segera bertemu seseorang itu. Ia lalu mendekat ke sebuah warung di mana tukang ojek biasa mangkal. Ia menepuk pundak seorang tukang ojek yang tertidur telungkup memeluk tanki sepedamotornya. Lelaki paruh baya itu terkejut.

“Tolong antar aku,” katanya sembari menyebut alamat.

Lalu, sepedamotor meluncur dengan tenang menembus subuh. Tiba-tiba ia merasa sangat riang, mencoba mengingat kapan pertama kali ia naik sepedamotor. Ia ingat, saat itu ia masih sangat kecil, saat harga jahe melambung tinggi. Satu hektare kebun jahe ayahnya tembus. Tapi, keadaan baik itu hanya berlangsung sekejap, musim tanam berikutnya penyakit menyerang, dua hektare jahe milik ayahnya membusuk saat akan panen dan menyebarkan aroma tahi di sekeliling ladang. Penyuluh pertanian tak berkutik, ayah tumpur, sepedamotor kembali dijual. Ayah lalu banting stir jadi bandar togel, tapi tiba-tiba ditangkap dan dipenjarakan. Juga tak berapa lama, bapak meninggal di penjara. Ia sedih mengenang itu dan tiba-tiba ingin pulang.

Lalu, tanpa pikir panjang, ia menawarkan sejumlah harga kepada tukang ojek agar bersedia mengantarnya ke kampung. Tukang ojek setuju. Jarak antara desa dan kota kecil di mana ia tinggal, memang hanya 70 kilometer. Ia mendadak tidak peduli pada tujuannya menemui seseorang, ia benar-benar ingin pulang, ingin ziarah ke kuburun bapak, juga ibu yang juga segera meninggal menyusul ayah. Ia tahu ibu tak tahan menderita didera sepi. Ia ingin minta maaf kepada bapak dan ibu.

Sepedamotor terus meluncur. Setelah melewati pinggiran kota, mereka masuk ke tanah-tanah kosong penuh semak, lalu melintasi areal perkebunan kelapa sawit. Saat menatap keteraturan barisan pohon-pohon sawit, ia sedih dan menyesal mengingat semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Ia ingat istrinya yang mungkin masih lelap di ranjang. Ia sedih telah membohongi perempuan cantik itu selama bertahun-tahun. Ia sering meninggalkan perempuan itu tengah malam dengan berbagai alasan, tapi sesungguhnya, bersama komplotannya, ia pergi mencuri buah sawit. Dan ia bersyukur, sepanjang karir memalukan itu, ia tidak pernah tertangkap. Ia ingin menceritakan kehebatannya kepada tukang ojek, tapi keinginan itu segera menguap, sebab mereka mulai memasuki perkampungan kecil. Hari mulai terang. Satu dua angkutan desa mulai melintas. Ia merasa perutnya keroncongan. Tapi ketika ia ingin mengajak tukang ojek singgah untuk sarapan dan minum kopi di salahsatu warung, ia ingat lagi kampung halaman, ingin cepat-cepat tiba di sana, maka niat minum kopi dibatalkannya.

Setelah satu jam sepedamotor meluncur, mereka masuk ke jalanan berbatu. Kenangan masa kanak-kanaknya bersinar. Ia ingat, dulu jalanan itu penuh lumpur. Ia harus jalan kaki sepanjang lima kilometer jika kebetulan diajak ayah ke kota. Truk pengangkut hasil pertanian warga sering terperosok selama berhari-hari. Jika truk kebetulan terperosok tak jauh dari rumah mereka, ia kerap menonton, bahagia melihat roda truk berputar-putar di dalam lumpur. Ia bahagia mendengar mesin meraung-raung. Ia bahagia melihat supir dan kernet bus mencongkel-congkel lumpur, memecah batu-batu cadas, lalu memasukkan pecahan-pecahan batu itu bersama sekam ke lubang lumpur agar roda menggigit. Ia bahagia mengenang masa itu.

Kini ia mulai masuk ke jalanan yang menanjak. Mesin sepedamotor mulai meraung-raung. Di kejauhan, bukit-bukit mulai tampak membentang. Hari benar-benar sudah terang. Ia yakin, sebelum pukul tujuh, ia sudah tiba di desa. Ia tatap ladang-ladang jagung yang menghampar di sisi kiri dan kanan jalan. Ia tatap sawah yang menguning di kejauhan. Lalu ia teringat, sewaktu kecil, ia sering meniup seruling ketika menjaga burung, kerap dibayar mengangon kerbau oleh orang kaya desa, dan ia senang bisa menunggang kerbau sambil bernyanyi menyongsong senja dan berebut tempat dengan burung-burung gagak. Ia kini seperti tenggelam dan kembali larut dalam pusaran kenangan itu.

Akhirnya ia tiba di desa. Tapi ia heran, tukang ojek yang disewanya dari kota, mendadak pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya. Ia memandang sekeliling, tapi tukang ojek itu benar-benar telah pergi. Ia merinding. Ia ingat seorang temannya pernah bercerita dijemput kakeknya dengan mobil, lalu membawanya ziarah ke kuburan nenek. Kakek membantah kejadian itu, tapi temannya bersikeras telah pergi ziarah bersama kakek ke makam neneknya. Apakah ia mengalami hal yang sama? Ia mencubit lengannya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dan sakit. Ia berpikir, mungkin tukang ojek itu pergi mencari sarapan. Dan ia tidak resah, sebab ia masih bisa menemui tukang ojek itu di pangkalan di persimpangan menuju rumahnya, jika seandainya ia pergi dan lupa meminta tarif seperti disepakati.

“Pulang, Bang?” tanya penghuni rumah peninggalan bapak.

“Iya, mau ziarah.”

Tak ingin ia berbasa-basi. Ia segera ke ladang di belakang rumah di mana bapak dan ibunya dikuburkan. Di makam bapak dan ibunya, ia menangis. Tapi ia tidak tahu untuk apa dia menangis, sebab sesungguhnya ia sedang bahagia dapat bertemu lagi dengan bapak dan ibu, meski tanpa istri dan anak-anak. Anak-anak? Barangkali itulah yang membuatnya menangis. Sepuluh tahun hidup bersama Mauly, istrinya itu, dia belum mendapatkan momongan. Ia bersimpuh di bawah nisan, tapi ia tidak meminta restu agar ia diberi anak, sebab ia tahu segalanya telah terlambat. Dan ia tahu, bapak dan ibu masih marah kepadanya dan tidak akan pernah setuju ia hidup bersama Mauly.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan. Ia telah kehilangan ayah dan ibu ketika usianya 12 tahun. Setelah itu, dia selalu hidup dari satu tempat ke tempat lain. Ia tidak pernah berpikir jadi pengembara, tapi ia telah hidup jadi pengembara. Ia ingat, ia pertama kali tiba di sebuah kota pelabuhan. Ia bekerja sebagai kuli  bongkar muat kapal, lalu sesekali melaut bersama nelayan yang diakrabinya. Ia senang bermain-main dengan gelombang, makan ikan mentah jika kelaparan di tengah laut. Malam hari, bersama kuli-kuli pelabuhan, ia tenggelam dalam mesum warung remang-remang, mabuk menenggak alkohol, diajari onani oleh kuli-kuli berumur, digoda pelacur-pelacur pelabuhan dan dijanjikan gratis jika ia mau bersetubuh. Ia diperolok-olok secara maksiat, dan selama beberapa waktu, ia bergetar hebat merenungkan kegilaan yang mendadak muncul dalam kehidupannya. Hingga suatu malam, ketika dendam dan getar menyulut liar, ia tak tahan. Ia menyeret seorang pelacur ke baraknya. Ia setubuhi perempuan itu dalam bauran hasrat dan rasa takut yang berlangsung getir. Ia ingat perempuan itu tertawa-tawa, tapi ia tidak patah arang menuntaskan dendam. Ia ingat, pelacur itu akhirnya terkapar dan malam-malam berikutnya adalah milik mereka.

Ia kemudian bosan, dan pergi meninggalkan bandar. Ia masuk ke kota besar dan mulai terpukau pada keramaian. Ia senang tidur di emper toko-toko, mampir di warung-warung kopi pada siang hari. Awalnya jadi tukang semir, lalu nakal lagi setelah berkenalan dengan pelacur jalanan di tengah malam-malam buta. Ia bekerja siang hari, lalu membuang hasil peluh bersama perempuan-perempuan yang ia sukai. Bertahun-tahun ia hidup dalam kekacauan itu. Lalu, ia mulai bercita-cita. Ia ingin jadi lelaki tampan, punya rumah, mobil dan bisa melakukan apapun ia inginkan. Ia ingat kampung, tapi entah kenapa, ia tidak suka tinggal di desa. Ia sama sekali tidak tertarik jadi petani. Ia lalu pulang kampung. Ia sewakan rumah dan tanah peninggalan orangtuanya. Uangnya ia bawa ke kota. Ia ingin berusaha. Tapi pertarungan tak semudah ia duga. Ia kalah.

Dan, kini ia bersimpuh di makam orangtuanya, dan tiba-tiba merasa malu untuk semua hal yang telah ia lakukan. Ia menangis dan berkata, sesungguhnya ia ingin mengunjungi seseorang, tapi entah kenapa ia malah pulang ke desa. Ia terisak, memohon ampun pada bapak dan ibu, minta restu agar ia diizinkan menemui seseorang itu. Ia mengatakan, seseorang yang ingin ditemuinya itu bukanlah orang jahat, yang kembali akan menyeretnya ke dalam kegelapan. Setelah bertemu seseorang itu, dia berjanji akan pulang, merawat makam bapak dan ibu, dan selamanya akan tinggal di desa. Ia akan mengajak  Mauly, memperkenalkan perempuan seksi itu sebagai istrinya kepada seluruh warga desa.

Tapi ia ragu, apakah Mauly bersedia hidup di desa? Ya, ya, ia akan menjelaskan bahwa hidup di desa jauh lebih tenang. Ia akan membujuk istrinya agar mereka menjual saja rumah dan lapo, lalu membangun kehidupan yang baru di desa. Setiap pagi mereka akan bangun ditingkahi kokok ayam dan kicauan burung-burung. Di kejauhan akan terdengar lenguhan kerbau, berangkat ke ladang dengan hati dan jiwa bersih, sarapan di saung beratap ilalang, lalu bekerja di ladang sembari menikmati hembusan angin yang turun dari bebukitan. Sore hari sepulang kerja, mandi di pancuran, lalu malam hari bercengkerama sebelum tidur, mendengar bunyi jangkrik-jangkrik. Pada hari-hari tertentu, meraka pergi memancing ke sungai di tepi kampung, tertawa riang ketika ikan jurung tersangkut di mata kail, mengelepar-gelepar ketika joran ditarik. Ai, indah sekali hidup di desa. Ia tidak perlu lagi pusing menghadapi celoteh para peminum tuak, juga tak perlu cemburu ketika duda-duda jalang menatap genit bokong Mauly, dan tak perlu marah menghadapi pria-pria pengangguran yang mampu menenggak tuak hingga belasan gelas, tapi selalu meninggalkan utang. Di desa, segalanya akan berlangsung tenang. Dan ia yakin, penyakit paru-paru yang dideritanya selama dua tahun terakhir, akan sembuh disiram angin segar desa. Ia tahu, istrinya sudah sangat menderita mendengar batuknya setiap malam, lelah mencari empedu kambing setiap hari di pusat pasar, bahkan sesekali mengeluarkan uang banyak membeli liur walet. Ia mendadak punya harapan, di desa sakitnya akan sembuh.

Sekali lagi ia bersimpuh di makam orangtuanya. Ia kembali terisak, lalu beranjak gontai meninggalkan makam. Sebelum kembali ke kota, ia ingin menemui penghuni rumah peninggalan bapak dan ibunya, menegaskan kembali bahwa dalam waktu dekat ia dan istrinya akan kembali ke desa, dan memohon agar rumah itu segera dikosongkan. Tapi ia mengurungkan niat itu. Ia merasa, hal yang sama tak perlu disampaikan secara berulang dan bahwa hal itu sudah dibicarakan beberapa waktu lalu, ia kira sudah cukup.

Matahari mulai meninggi. Ia merasa lapar, tapi ia bertahan. Ia ingin mengejar angkutan menuju kota, sebab seperti biasa, hanya ada satu angkutan umum yang berangkat dari desa itu setiap hari, berangkat pukul 10.00 WIB. Ia tidak ingin ketinggalan, maka ia mempercepat langkah menuju sebuah simpang, sekira satu kilometer di hilir desa. Di simpang itulah biasanya angkutan menunggu penumpang, sebab sulit naik ke desa karena kondisi jalannya sangat buruk. Dan saat berjalan itu, dia kembali terbatuk-batuk, perutnya terasa melilit. Ia keringatan.

Maka, selama di bus, ia memilih tidur. Tapi ia tidak benar-benar tidur. Ia kembali mengingat setiap peristiwa yang pernah dilaluinya. Ia seperti kembali melihat dirinya bekerja di pelabuhan, bertengkar dengan kuli-kuli berumur yang kerap memperdaya dan menilap upahnya. Semua itu seperti kembali dikunjunginya, juga ketika ia mengembara dari kota ke kota, hidup sebagai tukang semir, pengemis, buruh bongkar muat di toko-toko orang Tionghoa, lalu terjebak di lingkungan kumuh bersama anak-anak jalanan, cekikan bersama pelacur-pelacur kelas teri yang gagal masuk bar dan kafe karena kalah cantik. Ia terkenang pada semuanya. Dan membuatnya lelah. Dan membuatnya sunyi. Tapi ia tetap berusaha tidur.

Ia mungkin bermimpi, sebab kesuraman demi kesuraman terus berlanjut memenuhi ingatan dan benaknya. Ia nyaman ketika bayangan kejahatannya melintas. Ia ingat bagaimana ia bertemu Ordo, preman terminal yang kemudian mengajarinya merampok. Ia melakukan aksi pertama di sebuah mesim ATM. Ia memakai topeng karet  yang warnanya persis seperti kulit. Ordo yang merancang semua itu untuk kemudahan aksinya. Ia berhasil menodong nasabah di pintu ATM sebuah bank dan membawa lari uang tak lebih dari tiga juta pada aksi pertamanya dan itu membuatnya sangat bahagia. Ia tidak ingin mengingat semua itu, tapi segalanya seperti dipaksa hadir dalam mimpinya. Ia ingat, setelah itu hidupnya berkalang kejahatan. Bersama komplotannya, ia pernah merampok toko emas, merampok truk ekpedisi barang-barang elektronik, menyikat gaji karyawan kebun, menipu pejabat dengan kekuatan hipnotis, hingga memanen sawit perkebunan negara pada malam hari. Dia kemudian berpoya-poya dari bar ke bar. Bercinta dengan banyak perempuan-perempuan yang ia sukai hingga akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Mauly, istrinya itu. Ia ingat suatu hari, ketika ia jatuh sakit dan muntah darah, perempuan itulah yang membawanya ke rumah kontrakannya yang sempit, merawatnya hingga sembuh, lalu mereka menikah menurut cara mereka. Ia menganggap Mauly istrinya, Mauly mengganggap ia suaminya. Begitu saja, dan sejak itu mereka hidup serumah.

Bus terus melaju dan mulai memasuki wilayah kota. Ia mulai tak nyaman dengan mimpi-mimpinya. Ia berpikir, mungkin tidak benar ia tidur dan tidak benar ia bermimpi, sebab masa lalu itu benar-benar nyata berlintasan dalam kepalanya. Tapi ia tidak ingin memikirkannya. Ia kembali menyandarkan lehernya di bantalan kursi bus yang mengeras. Ia menghayal, setibanya di rumah, ia akan makan lahap, sebab istrinya mungkin sudah menyiapkan makanan lezat menyambut kedatangannya. Tapi ia sadar, hal itu tidak mungkin, sebab ia tidak mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan pulang hari itu juga. Ia sedikit kecewa tidak meninggalkan pesan kepada istrinya. Dan makin kecewa bahwa sesungguhnya ia pergi untuk menemui seseorang, tapi ia belum menemuinya. Sesungguhnya, selama dalam dalam perjalanan, dia sudah tahu siapa seseorang yang akan ditemuinya itu. Dan seseorang itu sangat ia kenal. Seseorang itulah yang telah membuatnya berubah dan pergi meninggalkan dunia kejahatan. Seseorang itulah yang senantiasa membuatnya penuh harapan dan bertahan hidup bersama Mauly yang mandul. Seseorang itulah yang mengajarinya mencintai Mauly secara kekal.

Baiklah, bus sudah tiba di kota. Ia turun di persimpangan itu. Sejenak dia mencari tukang ojek yang pagi tadi mengantarnya ke desa. Ia ingin membayar tarif sebagaimana mereka sepakati. Ia yakin, tukang ojek itu sudah pusing memikirkan ketololannya. Tapi ia tidak menemukan tukang ojek itu. Mungkin sedang mengantar penumpang, pikirnya.

Ia kemudian memutuskan pulang ke rumah, sebab sore nanti ia masih bisa datang ke simpang itu dan menunggu tukang ojek tolol itu sembari minum kopi. Tapi sejenak ia ragu, apakah yang harus dikatakannya pada istrinya? Ya, ya, jika istrinya bertanya apakah dia sudah bertemu dengan seseorang itu, dia akan menjawab belum. Dia akan berkata bahwa seseorang itu adalah orang baik, sehingga dia ingin mengajak istrinya untuk ikut bersamanya. Dia akan berkata bahwa Mauly harus mendampinginya menemui seseorang itu. Sebab aku mencintaimu, sayangku, kita harus pergi bareng menemui orang itu, dia akan berkata demikian. Hatinya sangat riang memikirkan adegan romantis itu.

Tapi berapa meter menjelang rumah, mendadak tubuhnya gemetar. Jantungnya berdenyut cepat. Nafasnya menderu dasyat. Ia melihat banyak orang berada di rumahnya. Sayup-sayup ia mendengar tangisan menguar dari dalam rumah. Ia panik, ada apa dengan Mauly? Apakah Mauly meninggal? Ia berlari, tapi begitu tiba di halaman rumah, langkahnya terhenti, sebab ia mendengar, raungan itu adalah raungan Mauly, tangisan itu adalah tangisan Mauly. Ia lega, sekaligus sedih. Ia dengar dalam tangisnya Mauly menyeru-nyeru namanya. Pandangannya mendadak gelap. Dia merasa seperti tidur dalam lindap, sementara raungan Mauly terus menggema: Kau bilang kita akan ke desa. Kau bilang di desa sakitmu akan sembuh. Kenapa kau pergi, kenapa, kenapa, kenapa...?

Ia tak ingin menjawab pertanyaan istrinya. Ia tatap jasadnya sejenak, lalu pergi menemui seseorang itu.

Pematangsiantar, Juni 2008

* Cerpen ini pertama kali dimuat di Majalah Sastra Horison, Edisi November 2008


Cerpen Panda MT Siallagan

Sebelumnya, kau tidak pernah menangis di depan televisi. Tapi ketika suatu hari kau menyaksikan seorang lelaki yang kau kenal muncul di televisi, kau menangis. Benar-benar menangis.

Sudah sangat lama kau berpisah dengan lelaki itu. Kau ingat bahwa kepergiannya membuatmu terluka. Dan sangat sedih. Hari-hari sesudah kepergiannya adalah rentangan sunyi. Kau telah begitu tersiksa menjalaninya.

Ilustrasi.
Ketika pergi, lelaki itu tidak memberitahumu ke mana arah tujuannya. Dia hanya berjanji bahwa dia akan kembali. Masih jelas terekam di benakmu ketika dia berlalu, melenggang dengan berat, seolah ada banyak hal yang harus disepakati ulang tentang cinta kalian. Kau sedih sekali, tapi sebagai gadis cerdas, kau berusaha tegar. Kau katakan kepadanya bahwa kau mengantarnya dengan doa, dengan cinta dan kesetiaan. "Aku akan menunggumu. Wujudkanlah cita-citamu," katamu dengan suara yang dibungkus pilu.

Setiba di rumah, kau menangis di kamar. Kau lupa bahwa kau adalah perempuan yang benci sikap cengeng. Kau lupa bahwa seharusnya kau bisa lebih tenang. Lalu kau himpun lagi segala peristiwa dalam ingatanmu. Kau ingat betapa mesra kalian pada suatu masa, bergandeng tangan menyusuri jalan-jalan kota. Kalian saling bercerita, saling berbagi bahagia, juga berbagi sedih. Kau ingat lagi tangismu saat pipimu diciumnya. Tangisan ganjil yang entah mengapa selalu hambur dari mulut perempuan setiap menerima ciuman lelaki untuk pertama kali.

Kau ingat semuanya, juga hari-hari sesudahnya. Kau selalu menemaninya ke kantor pos setiap kali dia mengirim surat kepada ayah bundanya. Di kampung kami belum ada jaringan telepon, surat adalah satu-satunya alat komunikasi, katanya kepadamu. Dan kau mendapatkan kesadaran baru sejak itu. Kau tahu akhirnya bahwa surat adalah media komunikasi paling indah. Di dalamnya, sangat mungkin bagi siapa saja menulis kata-kata mesra, kalimat-kalimat indah, bahasa-bahasa menyentuh, yang barangkali akan terdengar aneh jika disampaikan dalam bahasa lisan. Itulah sebabnya pada saat-saat terakhir kepergiannya, kalian berjanji akan saling berkirim surat satu sama lain. Kalian memutuskan bahwa kalian hanya akan berhubungan lewat surat.

"Setelah sampai, akan segera kutulis surat untukmu, sekaligus memberitahu alamatku di tempat yang baru," katanya.

Dua minggu kemudian, suratnya datang. Kau bahagia sekali menerimanya. Kau ciumi surat itu berkali-kali sebelum kau baca berkali-kali. Setelah itu, hampir setiap bulan kau mengiriminya surat. Hampir dalam setiap surat kau katakan bahwa kau tetap mencintainya, mendoakan dan mendukung setiap pekerjaan dan rencana-rencananya. Hampir dalam setiap surat kau berkata bahwa kau tetap menunggunya, bersetia hanya untuk lelaki itu.

Tapi kau kecewa dan terluka karena akhirnya dia tidak pernah membalas suratmu. Surat terakhirmu padanya adalah surat yang ke tiga puluh dua. Lalu kau coba melupakannya. Kau tenggelamkan dirimu dalam kegilaan-kegilaan, sibuk merancang dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang bagus. Kau berkumpul bersama teman-temanmu, pergi menghadiri undangan-undangan pesta, ngalor-ngidul sekedar mengurangi luka. Kau ajak teman-temanmu memancing, berkemah di hutan-hutan, dan sesekali mabuk-mabukan. Kau sebetulnya tahu bahwa tindakan itu sangat salah. Kau tahu bahwa sebaiknya kau berpikir dan berbuat untuk masa depanmu. Tapi, kau benar-benar tidak bisa menerima perlakuan kekasihmu itu, ingatanmu padanya terlalu menyiksa, dan kau melakukan semua itu sekedar bisa melupakannya, meskipun hanya sekejap. Tapi semua itu tak bisa membuatmu tenteram. Selalu terbayang olehmu penampilannya yang sederhana, sikapnya yang santun, bicaranya yang lembut, dan tentu saja otaknya yang cerdas.

Dulu, kau selalu menemaninya ke perpustakaan, mencari buku-buku yang kalian butuhkan, berdiskusi, dan itu mambuatmu selamat dari bahaya kebodohan karena sebelumnya kau adalah gadis pemalas, gadis yang sama sekali tidak memiliki minat baca. Bersamanya, kau akhirnya tahu bahwa belajar itu sangat menyenangkan.

Setelah selesai berdiskusi dan belajar bersama, kau biasanya mengajaknya ke kantin, makan bersama. Tapi dia selalu menolak jika kau membayar makanannya. Dia juga selalu tak bersedia naik ke mobilmu jika kau menawarkan untuk mengantarnya pulang. Dia selalu memilih naik oplet jika ingin pulang ke rumah sewaannya. Tapi kau tidak pernah tersinggung. Dia cukup tahu bagaimana memberi penjelasan yang nyaman atas penolakannya. Dan semua itu membuatmu terpesona, makin cinta kepadanya.

Makin sempurna kemudian kegilaanmu padanya ketika suatu hari kau mendengarnya bernyanyi. Kau takjub pada keindahan suaranya. Sejak itu, kau seringkali memintanya bernyanyi, dan dia selalu memenuhi permintaanmu. Selain membaca, menyanyi memang sudah menjadi hobinya sejak kanak-kanak.

Sekarang, setiap kali suaranya terngiang di telingamu, ingatanmu padanya kian menerkam. Kau ingat lagi kebaikan-kebaikannya, nasehat-nasehat yang membuatmu makin dewasa. Dia memang selalu menyokong, mendukung dan tidak pernah memuatmu sakit hati. Pernah suatu kali kau membuatnya terluka ketika kalian bertengkar kecil, lalu kau bangga-banggakan kekayaan orangtuamu.

Tapi dia hanya tersenyum, tidak tersinggung. Dia bahkan menyarankanmu agar selalu bersyukur kepada Tuhan. Sungguh, kau tidak pernah menyangka bahwa dia akan melupakanmu. Benar-benar tidak kau duga. Ketika suratmu yang ke limabelas tidak mendapat balas, kau mulai sakit hati, marah, kecewa dan berhasrat sekali mencarinya. Dan jika ketemu, kau akan menampar wajahnya sekuat yang kau mau. Tapi kebencian itu selalu terkalahkan oleh ingatanmu pada senyumnya, kebaikan-kebaikan dan kelembutannya yang tanpa batas. Jauh di dalam hatimu, kau masih berharap semoga kalian dapat bertemu lagi dan kau akan mendekapnya dan berkata bahwa kau sangat merindukannya.

Setelah cukup lama, kau memang berhasil melupakannya walau hanya sesekali, saat bergabung dengan teman-temanmu sepengangguran. Kau juga sudah mulai berteman dengan banyak lelaki yang kau tahu sangat damba pada cintamu. Dan akhirnya, di tengah kehancuran menanti, kau memilih salah seorang dari lelaki-lelaki itu. Tapi kau tidak pernah benar-benar yakin mencintainya, meski selalu berusaha mencintanya. Oleh sebab itu, setiap kali lelaki itu bicara kepadamu tentang pernikahan, kau selalu mengelak. Kau masih terus berharap semoga kekasihmu itu kembali lagi.

Seiring waktu, kau memang tidak terlalu sedih lagi walaupun setiap saat masih teringat kepadanya. Kau ingat bagaimana dia sangat kikuk ketika kau mengajaknya ke rumahmu, yang dikatakannya seperti istana. Kau ingat bagaimana canggung dan gugupnya dia menghadapi ibumu yang menyerbunya dengan banyak pertanyaan. Kau ingat bagaimana lucu mimiknya membanding-bandingkan rumahnya dan rumahmu.

Rumahku di kampung persis seperti kandang kuda, katanya tertawa. Mengingat semua itu, kau tersenyum. Lalu setelah senyum yang jenak itu, dadamu terhantam lagi karena kau berpikir bagaimana keadaannya saat ini, dan di mana dia berada. Dan setiap kali kau bertanya dalam hati apakah dia masih sendiri atau sudah menikah, kau pasti ambruk, dadamu serasa terbakar, jantungmu remuk. Kau tak mampu membayangkannya hidup bersama perempuan lain. Kau tidak rela kebaikan dan kelembutannya menjadi milik perempuan lain. Kau menangis lagi. Benar-benar menangis.

Kau lupa, seandainya dia melihatmu menangis, dia akan mengejekmu habis-habisan. Dulu, dia sering menangis di hadapanmu, bukan karena kau sakiti, tapi karena sedih memikirkan orang tua, nasib adik-adiknya. Kau memang berjanji untuk membantu mereka jika kelak kalian sudah menikah, tapi dia selalu berkata bahwa Tuhan akan mengatur segalanya. Dia juga sering menangis saat menonton tayangan-tayangan sedih di televisi. Jika berhadapan dengan berita pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, kerusuhan, dia akan menangis seolah-olah korban itu adalah saudaranya. Dia juga sering menangis jika sinetron dan film-film menghadirkan adegan sedih. Dan kau selalu mengejeknya, menuduhnya tidak rasional, terlalu sentimentil dan perasa. Tapi dia menanggapi ejekanmu dengan senyuman, dan berkata: "Adakalanya kau belajar memahami perasaan. Perasaan adalah kehidupan itu sendiri."


Kau mengiyakan, tapi tetap tidak setuju dengan sikap seseorang yang menangis di depan televisi. Kau berkata bahwa apa-apa yang dihadirkan televisi adalah dusta,  kebohongan-kebohongan yang secara menakjubkan dikirim ke rumah-rumah. Dan kau bersumpah tidak akan pernah menangis di depan televisi.

Lalu hari itu pun tiba. Kau menangis di depan televisi. Benar-benar menangis. Kau saksikan lelaki terkasihmu itu muncul di televisi. Tampil sebagai salah satu peserta kontes nyanyi. Kau nyaris pingsan, tapi segera menata pikiran. Kau pelototi lagi televisi untuk memastikan apakah benar dia kekasihmu. Dan benar, dia memang kekasihmu.

Tubuhmu gemetar, persendian tulang-tulangmu terasa panas, jantungmu berdegup kencang, pikiranmu kacau, panik, sedih, bahagia, marah, kesal, semuanya berbaur mencabik-cabik jiwamu. Kau ingat lagi detik-detik terakhir perpisahan kalian.

"Dik, aku mencintaimu. Tapi aku harus pergi. Aku harus berjuang menata hidupku. Kelak, jika aku sudah berhasil, aku akan datang menikahimu. Aku tahu Adik bisa menghidupiku. Apa sih yang tidak bisa diberikan ayahmu sama kau? Tapi aku harus menunjukkan kepada orang tuamu bahwa aku adalah lelaki yang tepat buatmu. Adik jangan sedih, ya! Aku pasti pulang untukmu."

Dan sekarang, kau menyaksikan kekasihmu itu muncul di televisi. Kau melihatnya dipuja jutaan orang, disoraki dengan begitu meriah, orang-orang histeris karenanya. Kau tahu dia akan terkenal. Kau tahu dia sudah menjadi milik banyak orang. Harapanmu tumpas. Impianmu memilikinya terputus. Kau merasa bahwa dia bukan milikmu lagi. Dia sudah milik orang lain. Kau hanya bisa menangis.

Kau kalap. Kau putuskan untuk menikah dengan Van Emte Eseljien, pacarmu yang tidak pernah benar-benar kau cintai itu. Kau merasa hanya dialah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanmu. Setelah segalanya dibicarakan, diatur, direncanakan dan diputuskan, hari dan tanggal pernikahanmu ditetapkan. Kau menangis pada hari pernikahan itu.

Tapi kau tidak tahu, di sebuah tempat yang jauh, lelaki itu telah bersiap menemuimu. Segera sesudah kontes nyanyi itu berakhir, dia sudah berjanji untuk datang. Setelah kedua orang tuanya, kaulah orang pertama yang akan ditemuinya. Lelaki itu akan menikahimu. Tapi kau benar-benar tidak tahu.

Pematangsiantar, 2007


Cerpen Panda MT Siallagan

Sepanjang musim penghujan tahun itu, aku memutuskan lebih sering berkunjung ke rumah Marulova, kawanku sewaktu kanak-kanak. Setahun yang lalu, dia muncul secara mengejutkan di Namora Tuah, desa yang telah kudiami hampir dua per tiga dari usiaku. Peristiwa itu membuat kami sangat bahagia karena puluhan tahun sejak tamat SMP, kami tidak pernah lagi bertemu.


Ia mendekapku sangat erat dan berkata bahwa ia bahkan tidak pernah lagi berpikir tentang pertemuan yang masih terjadi antara kami. Ia mengaku dengan suara bergetar bahwa ia sangat rindu padaku tapi menyesal mengapa hal itu disadarinya setelah kami bertemu. Aku sendiri tidak dapat menggambarkan sebahagia apa aku hari itu. Dan, aku hampir tak percaya bahwa aku sangat bergetar ketika kawan itu menangis.

Hari pertama pertemuan itu kami habiskan dengan berbual-bual, saling bertukar cerita hingga puas. Pertama-tama kami tentu bicara soal kenangan-kenangan, kenakalan-kenakalan, juga tentang cita-cita masa kecil. Dan, semua itu rasanya terlalu lucu untuk dikenang pada masa sekarang. Dulu, kawan itu selalu berkata bahwa ia ingin jadi supir kapal terbang. Belakangan barulah kami tahu bahwa supir kapal terbang disebut pilot. Sementara, aku ingin sekali jadi tentara, sebuah cita-cita yang kemudian sangat kubenci. Kebencian itu terus berkembang tanpa alasan, sehingga aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah mengirimkan anakku masuk ke sekolah militer. Tapi untunglah aku tidak punya anak lelaki sehingga aku tidak perlu berpikir lagi soal itu.

Ada banyak orang yang barangkali bisa mewujudkan cita-cita masa kecilnya. Tapi, kurasa, orang yang melupakan hal itu tentulah lebih banyak jumlahnya. Ada yang kemudian menyadarinya tidak menarik, dan sebagian memang tak punya kesempatan mewujudkannya. Sebutlah Marulova, kawanku ini, bagaimana mungkin ia bisa menjadi pilot sedangkan memanjat pohon saja dia ketakutan. "Seperti ada hantu di atas sana," katanya.

Setelah puas berbicara tentang ingatan dan kenangan masa kanak-kanak, kami masuk ke dalam pembicaraan yang serius. Kuceritakan padanya segala hal yang telah terjadi dalam hidupku. Aku memang tak sepenuhnya bisa dikatakan gagal, tapi kerumitan dan kepedihan-kepedihan hidup telah begitu banyak kuhadapi. Dan, satu-satunya kebanggaan yang dapat kurasakan adalah bahwa semua itu telah berlalu tanpa menyebabkan suatu kehancuran. Kuceritakan segalanya kepada kawan itu, seolah-olah kami masih dua sahabat kecil yang saling mempercayai satu sama lain. Tak ada hal yang kukurang-kurangi ataupun kututup-tutupi. Juga, tak ada hal yang kulebih-lebihkan agar aku tampak lebih hebat dan berhasil.

"Istriku," kataku mengawali cerita, "Mendadak jatuh sakit pada saat pernikahan kami baru berusia tiga bulan. Dia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya dan selalu mual-mual. Awalnya aku berpikir bahwa gejala itu adalah tanda-tanda kehamilan dan aku bahagia sekali memikirkannya. Tapi, setelah beberapa lama penyakitnya tidak kunjung sembuh meskipun telah berkali-kali dibawa ke dokter, aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi pada istriku. Aku kemudian membawanya ke dukun. Dan benar, istriku ternyata kena guna-guna. Orang yang melakukan hal itu adalah rekan kerjaku, yang merasa iri melihat prestasiku. Dukun itu berkata bahwa istriku diserang dengan tenung jahat, dan satu-satunya jalan untuk menyembuhkannya adalah pergi dari kota itu. Untunglah ketika bekerja, aku sudah membeli sedikit tanah di desa ini. Kebetulan aku mempunyai seorang teman yang berasal dari desa ini, dan dialah yang menyarankan aku membeli tanah di sini karena, katanya, masih sangat murah. Begitulah, setelah tinggal di desa ini, istriku tak pernah sakit lagi. Sekarang, di masa tuanya ini, dia malah bisa berbuat amal. Aku selalu bangga kepadanya."

Kulihat kawan itu manggut-manggut dengan mata yang dipenuhi rasa ingin tahu. Maka kulanjutkan ceritaku dengan semangat yang lebih berkobar.

"Demikianlah kami memulai hidup baru dengan bertani di desa ini. Kau tahu, bertani ternyata bukan jalan hidup yang susah asalkan kita paham benar trik-triknya. Sungguh, aku dan istriku tidak pernah kesulitan kalau hanya sekedar makan. Kami selalu bahagia. Dan kebahagiaan itu semakin berganda setelah putri kami satu-satunya itu lahir. Kami membesarkan dengan cinta dan perhatian yang tulus. Tapi sayang, dia harus pergi dengan cara menyakitkan. Sekarang usianya 17 tahun. Dia tinggal di kota, bersama suaminya."

Kulihat kawanku Marulova sedikit kaget, maka kukatakan padanya bahwa peristiwa itulah luka paling menyakitkan yang pernah kualami.

"Dengan bangga," kataku melanjutkan kisah, "Kami mengirimnya ke kota untuk sekolah, meskipun kami harus berjuang keras membiayainya. Tapi, tahun ketiga di SLTP, beberapa bulan menjelang tamat dan kami sudah merancang akan mengirimnya lagi ke SMA bermutu, dia pulang dan berkata bahwa seorang lelaki telah menghamilinya. Anak-anak sekarang memang susah. Tapi, akhirnya, hatiku terobati juga karena ternyata menantu kami itu sangat baik. Sekali setahun mereka pasti pulang. Dengan menunggang mobil, dan itu membuat kami merasa bangga. Tapi, betatapun segalanya berlangsung tertib, hingga kini aku tetap sedih. Kau tahu, kami belum mengenal besan kami. Dulu, mereka menentang keras aib yang telah terjadi antara putra mereka dengan putri kami. Mereka tidak terima. Mereka pergi ke tempat yang jauh, melupakan anaknya si pendosa, menantu kami itu. Tapi bagaimanapun, aku harus mengakui bahwa besan kami itu cukup baik. Mereka meninggalkan sedikit harta dan itulah yang kini dikelola menantuku itu dan tampaknya usahanya berjalan lancar."

Sampai di situ, aku merasa sedikit malu karena ceritaku mulai bernuansa puji diri. Kuambil bungkus rokok dari saku, mengambilnya sebatang, lalu menawarkannya kepada Marulova. Kami lalu merokok bersama-sama.

"Aku sudah terlalu banyak mengoceh," kataku sambil menghembuskan asap rokok, "Sekarang giliranmu, Kawan. Ceritakanlah bagaimana kau bisa sampai di desa kami yang sunyi ini?"

Kawan itu sedikit gugup, diam sejenak, lalu berkata, "Aku datang ke sini untuk meminta maaf?"

"Minta maaf? Kepada siapa?"

"Kepada kau."

"Hahaha....! Kau masih seperti dulu ketika kecil, suka bercanda. Suka menyindir. Baiklah, aku salah. Dari tadi aku tak memberimu kesempatan bicara. Aku minta maaf."

"Tapi aku memang datang untuk minta maaf," katanya lagi, sambil tertawa.

"Jangan membuatku makin merasa bersalah. Tapi baiklah, kau mungkin belum bersedia bercerita sekarang. Lain kali aku akan mendengar ceritamu. Sekarang sudah malam, aku pamit dulu," kataku.

Kami lalu berjanji untuk saling mengunjungi satu sama lain. Tapi, ketika hari-hari berikutnya aku berkunjung ke rumahnya dan kawan itu tetap tidak bersedia berbicara tentang jalan hidupnya, aku merasa bahwa situasinya telah berbeda. Dia bukan lagi sahabat kecilku, yang dulu selalu riang dan suka berbagi cerita. Dan, setiap kali aku mengundangnya ke rumahku, dan ia selalu berjanji untuk datang dan tidak pernah menepatinya, aku makin yakin bahwa dia memang bukan sahabatku lagi. Sejak itulah aku mulai jarang ke rumahnya, dan akhirnya tidak pernah lagi sama sekali.

Tapi musim hujan yang rasanya berlangsung lebih lama pada tahun itu membuatku tergoda lagi untuk pergi ke rumahnya. Aku jengah di rumah melulu. Sementara, kalau aku pergi ke kedai kopi, penyakit judiku pasti kambuh, dan itu pasti membuat istriku meradang. Jadi kuputuskan berkunjung ke rumah kawan itu lagi. Selain masih penasaran dengan liku-liku hidupnya, aku juga ingin sekali mengungkap misteri mengapa kawan itu bisa menempati rumah bagus milik anggota dewan. Maklumlah, ulah pejabat-pejabat itu memang begitu. Mereka seringkali menumpuk harta di desa, agar di kota tetap tampak bersih dan tidak korup.

Tapi hal itu sebetulnya tidak terlalu penting. Aku pergi ke rumahnya benar-benar untuk menghilangkan suntuk. Seperti kataku, aku bosan di rumah. Sementara istriku sudah lebih berbahagia dengan hobi barunya menganyam tikar dan bakul dari daun pandan.

Untuk menghindari rasa jengkel, aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi tentang kehidupannya. Ia mungkin tidak suka jika kehidupan pribadinya dijadikan topik pembicaraan. Dan kurasa, mengajaknya ngobrol tentang politik, agama, perang berkepanjangan Israel-Palestina, pasti lebih menyenangkan meskipun apa-apa yang kami ketahui sudah sangat jelas diberitakan di koran-koran dan televisi dan pengetahuan kami tentulah hanya sebatas itu.

"Kau tahu," tiba-tiba kawan itupun berceritalah seperti seorang yang mabuk, "Istriku meninggalkan aku. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan itu setelah puluhan tahun hidup bersamaku. Dia tertarik pada seorang lelaki yang sering bertemu dengannya di sanggar senam, dan pergi bersama lelaki itu. Aku sangat terluka memikirkan hal itu dan tetap berdoa semoga dia sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Sepeninggalnya, aku kesepian, kesulitan mengurus diri, dan kemudian memutuskan kembali ke Indonesia karena hidup di tengah-tengah masyarakat yang sibuk ternyata tak begitu menyenangkan jika sendiri. Untunglah anak dan menantuku sangat baik dan mereka menerimaku kembali. Aku menyesal telah meninggalkan mereka. Menantuku itu sangat baik, bijak dan gesit. Merekalah yang menyuruhku tingal di desa ini. Mereka juga yang menyarankan aku membeli rumah ini. Kata mereka, aku pasti hidup bahagia di sini. Dan itu benar. Jadi, maafkanlah aku!"

"Oh, tak perlu minta maaf, Kawan. Semua orang pasti punya kisah masing-masing, yang hebat dan yang memalukan. Teruslah bercerita. Aku akan mendengarmu."

Tapi kawan itu diam, tidak lagi melanjutkan kisahnya. Mungkin ia tersinggung dengan caraku menanggapi.

"Baiklah," kataku kemudian setelah agak lama dia terdiam, "Aku senang mendengar ceritamu. Jalan hidup kita sama, persoalannya saja yang berbeda. Aku tetap bahagia kita bisa bertemu lagi. Sesekali, bawalah anak dan menantumu itu kemari. Aku pasti bahagia bertemu dengan orang sebaik mereka. Jika putri dan menantuku datang, aku juga akan memperkenalkan mereka kepadamu. Baiklah, sekarang sudah larut. Aku pulang dulu. Selamat malam!"

"Selamat malam," jawab kawan itu dengan geleng-geleng kepala. Ia mungkin kesal dengan sikapku yang tidak tanggap pada ceritanya. Ia mungkin berpikir betapa bodohnya aku, yang tidak paham dengan permintaan maafnya. Tapi, malam itu aku bahagia sekali. Aku berjalan di jalan becek desa sambil bersiul-siul, sementara gerimis masih merinai dari langit yang gelap. Aku sibuk berpikir bagaimana kebahagiaan ini harus kuceritakan pada istriku.

Oho, aku mungkin akan menciumnya, memeluknya, menggendongnya seperti yang sering kulakukan ketika pacaran dulu, lalu kubisikkan di telinganya, "Sayang, si Marolova bodoh itu ternyata besan kita." *** 

Catatan: Cerpen lawas ini terbit di Harian Riau Mandiri, Minggu 29 Agustus 2004. Riau Mandiri kemudian berganti nama jadi Haluan Riau.


Cerpen Panda MT Siallagan

Seandainya ia tidak pernah muncul, mungkin selamanya kehidupan di komplek perumahan kami akan berlangsung tegang, kaku dan tanpa kehangatan. Kami, seluruh warga, mungkin akan selamanya dipisahkan sekat-sekat bisu, selalu merasa tak perlu bicara dan bertegur sapa dengan para tetangga. Semuanya tenggelam dalam kesibukan kerja dan saling berlomba menimbun pundi harta, lalu saling iri dan benci tanpa sebab yang masuk akal. Si A berhasil merenovasi rumah, si B ganti mobil, si C belanja perabot, memunculkan praduga-praduga buruk dan beragam gosip. Keberhasilan orang lain adalah ketidaktenangan bagi pihak lain, semacam kutuk mengerikan, berputar menyebar kebencian. Ah, segalanya berlangsung melelahkan.

Ilustrasi.
Untunglah ia hadir membawa suasana berbeda. Saat pertama kali muncul, ia mengelilingi komplek perumahan kami sembari mendorong gerobak, memukul-mukul piring kaleng dengan sendok, sambil berteriak-teriak menjajakan dagangannya. “Baaandrek…bandreeekkk.”

Awalnya, orang-orang hanya melongok lewat jendela, sebagian bahkan merasa terganggu mendengar denting sendok dan piring kaleng yang beradu. Tidak seorang pun membeli dagangannya pada malam pertama kemunculannya.

Malam berikutnya, seorang nyonya pemilik rumah di dekat gapura, menyuruhnya berhenti dan memesan segelas. Sigap ia membuka dandang, mengambil gelas, menuangkan bandrek, lalu menyerahkannya kepada wanita itu. Wanita itu menyeruputnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya tandas.

“Berapa?” tanya wanita itu.

“Lima ribu perak, Bu. Tapi Ibu tak usah bayar. Saya sudah bernazar, siapapun pembeli perdana, saya akan beri gratis.”

Wanita itu tertegun. Ia paham arti nazar.

“Terimakasih,” katanya.

Sejak itu, kehadiran penjual bandrek menjadi perbincangan hangat di komplek kami. Cerita tentu saja bersumber dari Mak Tontu, pembeli perdana sekaligus pembeli satu-satunya pada malam kedua. Mak Tontu memang terkenal sebagai ratu gossip. Segala hal bisa menjadi menarik diramu mulutnya, sama seperti semua hal bisa menjadi sangat buruk disulut celotehnya. Maka tersiarlah kabar, penjual bandrek itu baik, ramah, dan sangat santun. Bandreknya enak, campuran gula aren dan jahe sangat pas, mujarab mengusir dingin, berkhasiat melegakan tenggorokan, mumpuni mengobati masuk angin. Tak lupa, Mak Tontu menggencarkan pendapat: sayang dia jadi penjual bandrek, padahal wajahnya sangat tampan, masih muda, pantas jadi pujaan banyak wanita.

Selanjutnya, pemuda tampan penjual bandrek itu kebanjiran pelanggan. Awalnya karena penasaran, tapi kemudian benar-benar membeli karena ingin. Untuk pertama kali, gosip yang menyebar dari mulut Mak Tontu terbukti benar. Bahkan banyak ibu-ibu yang kemudian tak hanya membeli bandrek, tapi juga mengajak pemuda itu berbincang-bincang. Tapi sayangnya, penjual bandrek itu hanya menjawab pertanyaan seperlunya. Dia bukan tipe lelaki yang enak diajak bicara, tapi tetap disukai ibu-ibu, sebab senyumnya memancar tulus. Seperti ada cahaya malaikat di matanya, kata sebagian orang. Sebagian lagi berpendapat, kebaikan hatinya berpendaran dari wajahnya.

Lalu, suatu malam, penjual bandrek itu tidak muncul di komplek. Beberapa orang yang sejak sore sudah menanti, mengaku merasa kecewa. Sesungguhnya ia tetap datang, tapi tidak lagi berkeliling di komplek. Ia mangkal di pos satpam dekat gapura, tak jauh dari rumah Mak Tontu. Mak Tontu yang mengetahui hal itu, langsung menghampiri penjual bandrek itu. Ia tentu saja bertanya mengapa pemuda itu tidak lagi berkeliling di sekitar komplek. Pemuda itu menjawab, itu dilakukannya agar pelanggan tidak kecewa. Pasalnya, pembeli mulai kerap mengajaknya ngobrol tanpa peduli waktu. Jika setiap pembeli mengajaknya ngobrol 20 menit, maka dalam sejam ia hanya bisa menjual 3 gelas dari rumah ke rumah. Itu artinya sejak pukul 19.00 hingga pukul 23.00, ia hanya bisa menjual 12 gelas, padahal di dalam dandang itu ada sekitar 50 gelas yang dibawanya setiap malam. Banyak pelanggan akhirnya kecewa karena terlalu lama menunggu, bahkan terkantuk-kantuk di teras rumah. Ia akhirnya memutuskan mangkal dekat pos satpam, sehingga pembeli bisa datang sendiri. Cerita inipun menyebar luas dari mulut Mak Tontu.

Ada yang berubah sejak itu. Vivi Lestari dan Dian Harta, dua gadis manis bertetangga yang sebelumnya tidak pernah saling menyapa karena kesibukan kerja, menjadi sering berpapasan ketika membeli bandrek, lalu saling melempar senyum dan akhirnya bersahabat karib. Keluarga Sinaga yang tak pernah akur dengan keluarga Pak Broto, akhirnya saling menyapa saat bertemu ketika membeli bandrek. Pak Lurah yang sepanjang kukenal hanya tahu minta sumbangan untuk kegiatan-kegiatan tak jelas, mulai bertanya tentang kabar warga. Anak-anak kecil mulai saling mengenal, saling mengunjungi, bermain dan belajar bersama, bahkan beberapa membentuk kelompok belajar. Para orangtua senang, anak-anak makin cerdas.

Tak terkecuali di keluarga kami, penjual bandrek itu sering menjadi topik pembicaraan. Bapak yang sering mengalami pegal linu, mengaku lebih sehat setelah rutin minum bandrek. Sulastri, adikku paling bungsu, sering merengek-rengek minta dibelikan bandrek terlebih jika hujan turun dan cuaca sangat dingin. Ibuku, wanita pendiam yang sepanjang kukenal tak mempan gosip, kali ini ketularan. Dia tidak hanya bicara soal citarasa bandrek, tapi juga soal lelaki itu. Ibu jadi suka membandingkan lelaki itu dengan anak-anak muda komplek yang hanya tahu nongkrong, minta uang rokok kepada orangtua, keluyuran hingga larut malam bahkan tersiar desas-desus bahwa sebagian anak-anak muda itu telah terjerat ganja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tanah kosong di ujung komplek sering digunakan pemuda-pemuda pengangguran sebagai tempat untuk mabuk-mabuk dan mengisap ganja. Bagi ibu, penjual bandrek itu adalah contoh bagaimana seorang anak muda dapat berusaha, punya cita-cita dan keseriusan menjalani hidup. Ia adalah pemuda yang patut ditiru.

Hingga suatu malam, aku marah besar pada ibu. Di tengah perbincangan tentang penjual bandrek itu, ibu tiba-tiba menawarkan agar aku berkenalan dengannya. Darahku tersirap. Ubun-ubunku tegang. Hatiku sumbat. Kukatakan bahwa saran ibu adalah penghinaan dan aku membantah tegas tawarannya.

“Kenapa?” tanya ibu.

“Ibu sadar tidak, aku ini sarjana loh, sudah PNS? Pokoknya tidak. Tidak. Jangan lagi sekali-kali Ibu bicara seperti itu.”

“Kenapa kau marah? Ibu hanya menawarkan, kalau kau tidak mau, katakan baik-baik, tak perlu teriak-teriak seperti itu. Hanya kau perlu tahu, tidak ada pemuda sebaik itu di jaman ini….”

“Sudah, sudah, aku tak mau bicara soal itu.”

“Kau aneh, semua orang menilai dia baik, hanya kau yang tidak pernah peduli. Kau tidak pernah mau melihatnya. Kau sombong, Ira! Kau angkuh! Kau bisa seperti sekarang, kau pikir karena bapak dan emakmu kaya? Bapakmu hanya penarik becak, apa kau lupa? Apa kau lupa ibumu ini hanya seorang tukang cuci. Kau lupa menengok sejarahmu….”

Kutinggalkan ibu dan berlari ke kamar. Pintu kubanting keras dan kukunci dari dalam. Aku sangat terluka mendengar tuduhan ibu. Aku sombong? Aku angkuh? Aku sangat benci kata-kata buruk itu dituduhkan padaku, sebab sepanjang kutahu, aku tidak pernah angkuh dan tidak pernah memandang rendah siapapun. Diam-diam aku mengutuk penjual bandrek itu, sebab kehadirannya membuatku terluka. Tak pernah kuingat ibu bicara sekasar itu. Juga tidak pernah aku melawan ibu sekeji itu.

Kuhempaskan tubuhku di ranjang. Aku sangat sedih. Airmata menderas dari mataku. Andai ibu tahu, sesungguhnya aku sedang merindukan seseorang. Seseorang yang mungkin membuat ibu lebih marah. Andai ibu tahu siapa lelaki yang kudamba itu, ibu mungkin akan menuduhku perempuan tolol yang tak tahu diri.

Sambil terisak, aku ingat lelaki itu. Lelaki bemata merah, mulut berbau alkohol, rambut gimbal tak terurus dan telinga ditenggeri anting-anting besar. Ingin aku keluar kamar dan berkata pada ibu bahwa aku mencintai lelaki seperti anak-anak muda komplek yang dikecamnya.

Apakah aku aneh? Seharusnya aku memang membenci lelaki itu, sebab ia nyaris mencelakaiku. Aku bertemu ia di persimpangan menuju komplek ketika pulang kemalaman mengikuti rapat di dinas. Ia mencegatku, menodongkan pisau dan meminta seluruh perhiasan yang kukenakan. Aku hampir pingsan. Tapi ketika kutatap matanya, sesuatu membuatku trenyuh. Warna merah itu adalah warna penderitaan.

“Baik, jauhkan pisaumu, kuberikan permintaanmu,” kataku.

Dia mundur beberapa langkah.

“Kau laki-laki, kenapa pakai anting? Apa kau tak malu?”

Aku melontarkan pertanyaan itu untuk menenangkan suasana. Lelaki itu tersenyum. Tapi aku tetap dilingkupi rasa takut. Jantungku berdegup laju. Kulihat sekeliling sangat sepi. Aku tahu, tidak akan ada pertolongan. Maka kuajak dia ke warung kopi tak jauh dari persimpangan itu. Aku pasrah, jika ia benar-benar merampok, cukup kusarankan agar dia tidak melukaiku, dan semua perhiasanku akan kuserahkan padanya. Kami lalu minum kopi.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Mau pulang, rumahku di komplek itu.”

“Oh, kuantar ya?”

“Tidak usah.”

“Maaf ya, Mbak! Tadi aku benar-benar ingin merampok.”

“Kenapa?”

“Ibu sakit keras. Tidak ada uang beli obat. Bapak sudah tak ada. Aku hanya bisa memberandal. Di mana-mana tak diterima kerja, hanya tamat SD. Aku sedih tak bisa berbuat apa-apa. Mbak bisa bantu aku?”

“Aku punya sedikit uang, mungkin tak cukup,” kataku sambil membuka tas dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberinya kepada lelaki itu. Aku tetap curiga, sebab banyak modus kejahatan saat ini. Tapi aku tulus memberikan uang itu karena ingin segera bebas dari cengkeramannya. Tapi saat kulihat matanya berkaca-kaca, aku yakin dia tidak berbohong. Mendadak dia beranjak dari kursi, tanpa pamit langsung berlari meninggalkan warung. Di kejauhan, dia menoleh lagi sambil berteriak dengan suara parau menahan tangis, “Terimakasih nona. Doakan ibuku sembuh. Moga rezekimu bertambah.”

Aku beranjak sedih dari warung itu. Dan sejak itu, ingatanku padanya tak pernah lekang. Bayangnya selalu hadir melintasi malam-malamku. Aku tahu aku jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada lelaki berandal yang bahkan tak kutahu nama dan di mana ia berada. Ibu tidak tahu aku mencintai lelaki berandal. Ibu malah menuduhku angkuh, sombong dan lupa pada sejarah, hanya karena seorang penjual bandrek.

Akhirnya aku keluar kamar. Kutemui ibu di ruang tengah Kuceritakan segalanya pada ibu. Aku tidak setuju dituduh sombong. Usai menceritakan itu, aku minta maaf. Ibu memelukku dan berkata, “Ibu juga minta maaf. Ibu hanya menyarankanmu berkenalan dengan dia, tidak menyuruhmu pacaran. Dia sangat baik Nak. Malam hari dia jualan bandrek, siang hari dia jadi tukang sorong di pasar. Tadi pagi ketika belanja, dia membantu ibu mengangkat belanjaan ke oplet tanpa minta upah. Ibu terharu. Itu saja.”

Demikianlah, cerita tentang penjual bandrek itu terus berdengung. Seluruh warga di komplek kami semakin suka padanya. Dagangannya semakin laris. Aku juga mulai suka menyuruh Sulastri membeli bandrek untukku, benar-benar nikmat. Lega rasanya ketika air jahe itu mengaliri tenggorokan. Tersiar pula kabar, hampir semua ibu-ibu di komplek selalu dibantunya ketika belanja di pasar. Aku sendiri mulai realistis dan tidak lagi berpikir tentang lelaki berandal yang pernah ingin merampokku.

Lalu, suatu malam, aku penasaran melihat penjual bandrek itu. Kuajak Sulastri keluar untuk minum bandrek sekaligus menikmati suasana komplek pada malam hari. Kebetulan cuaca sangat cerah, bulan separuh bersinar dari langit. Begitu tiba di pos satpam, aku hampir pingsan. Tubuhku bergetar. Oh Tuhan, penjual bandrek itu, lelaki berandal itu.

Pematangsiantar, Juni 2008 

* Cerita ini pertama kali dimuat di harian Suara Pembaruan



Cerpen Panda MT Siallagan

Tiba-tiba pukul tiga dini hari itu hujan turun. Di luar, angin mendesis, dan daun-daun akasia terdengar menggelepar. Aku dapat membayangkan beberapa daunnya gugur, meliuk-liuk diputar angin hingga akhirnya jatuh, tersadai di atas tanah. Lalu, petir menggelegar, bersabung dengan angin. Kudengar bunyi berdentang dari arah rumah kosong yang berada tak jauh dari rumah ini. Salah satu sengnya mungkin tercerabut dan melayang dihantam angin.

Aku segera mematikan komputer, kesal karena harus berhenti menulis. Bukan apa-apa, listrik di kota ini selalu menyisakan cerita menjengkelkan. Tiada hujan tiada angin, listrik di kota ini bisa padam dengan tiba-tiba, dan hampir bisa dipastikan, jika cuaca seburuk dan hampir membadai seperti sekarang, listrik akan padam. Aku tidak ingin komputerku yang sudah sakit-sakitan menjadi lebih parah karena listrik yang nyala-mati. Dan benar, sesaat setelah komputer kumatikan, lampu benar-benar padam. Gelap mengerkah. Lindap menggeram. Kunyalakan lilin yang memang selalu tersedia di laci mejaku. Dan puji lilin, sinarnya membuat kamarku sedikit terang.

Ilustrasi.
Pada saat itu, tiba-tiba ponselku berdering. Aku terkejut. Siapakah gerangan yang ingin berbicara padaku pada dini hari seperti ini? Penting sangatkah hal yang akan dibicarakannya sehingga ia perlu mengontak aku pada jam-jam mengerikan seperti saat ini? Kuperhatikan ponsel, sebuah nomor yang tak kukenal tertera di layarnya.

“Halo, selamat pagi!”

Tak ada sahutan dari seberang, maka kulanjutkan, “Halo, ini siapa?”

Tetap tak ada jawaban. Kumatikan ponsel itu. Tapi, beberapa detik kemudian, ponsel itu berdering lagi. “Halo!” kataku dengan nada kesal.

Dan di seberang, terdengar tangisan yang berbaur dengan rintihan-rintihan pilu, menyayat hati. Darahku menggelegak, jantungku berdetak, bulu romaku berdiri, aku didera rasa takut. Tangisan yang baru saja kudengar itu persis seperti tangisan yang biasa terjadi pada saat seseorang meninggal. Aku tiba-tiba teringat pada ibu yang dua tahun belakangan ini memang sudah sering sakit-sakitan. Apakah ibu meninggal? Apakah telepon yang kuterima tadi berasal dari salah seorang anggota keluarga yang ingin memberitahuku tapi karena kesedihan yang mendalam ia menjadi tak mampu bicara? Pada detik itu juga kuputuskan menelepon ke rumah. Dan, ada beberapa menit lamanya aku dikepung resah, menunggu telepon di seberang diangkat.

“Halo….” Kudengar suara ibu. Aku lega.

“Ibu ya? Apa ibu sehat?”

“Hei, kau rupanya? Ibu baik-baik saja. Bapa juga sehat. Ada apa menelepon sepagi ini?”

“Syukurlah. Aku bermimpi buruk, Ibu. Buruk sekali. Makanya langsung kutelepon.” Aku berbohong. Aku tidak mungkin menceritakan peristiwa yang kualami itu kepada ibu. Ibu sangat tidak percaya pada hal-hal gaib.

“Itu artinya kau mesti pulang. Sudah tiga tahun kau tidak pernah pulang, bapa dan Ibu sudah kangen. Bagaimana, apa kau sudah punya seseorang yang akan kaubawa menjadi menantu buat kami?”

Nah, ujung-ujungnya pasti ke situ. “Ibu tenang sajalah. Jika waktunya tiba, keinginan Ibu akan terwujud. Akan kubawakan buat Ibu seorang perempuan yang sangat cantik.”

“Tapi kapan?”

“Jika waktunya sudah tiba, tentu saja.”

“Ah, kau selalu begitu.” Suara ibu tiba-tiba melemah, menguarkan nada kecewa.

“Udah dulu, ya, Ibu! Aku ngantuk, mau tidur lagi.”

“Baik-baik kau ya, anakku!”

***
Pagi itu, aku tidak bisa tidur lagi. Diselimuti rasa takut, aku tak henti-henti berpikir tentang persitiwa itu. Memang, sudah sejak dua tahun yang lalu, sejak ibuku mulai sakit-sakitan, aku sering dihantui rasa takut jika ponsel berdering. Aku takut jika suatu hari ponsel berdering dan tiba-tiba kuterima kabar duka tentang kematian ibu. Aku merasa belum siap untuk itu. Lalu, peristiwa menggerunkan itu, isyarat apakah?

Esok harinya, kuceritakan peristiwa itu kepada seorang kawan. Tapi, seperti kuduga, kawan itu hanya berkata, “Dasar pengarang. Tidakkah kau punya cerita lain yang lebih berguna untuk kau kisahkan kepadaku, tentang Liana, misalnya?”

Aku jengkel. Kutinggalkan kawan itu dengan perasaan kecewa. Bukan, bukan karena aku tidak suka bercerita tentang Liana, tapi jika saat ini kawan itu memintaku bercerita tentang kekasih, itu tampak lebih menyerupai ejekan ketimbang sokongan moral. Sebab hingga kini aku belum menikah. Yah, lelaki penakluk hati banyak perempuan ini belum menikah. Lelaki yang dulu menggurui banyak lelaki tentang bagaimana memerangkap perempuan ini masih membujang. Membujang dalam usia kepala tiga. Tapi, benarkah aku telah menceritakan peristiwa itu pada seorang sahabat?

Aku sebenarnya tidak anti pada gagasan pernikahan. Seperti banyak orang, aku juga rindu pada kehadiran sebuah keluarga, seorang istri, anak-anak yang mungkin manja-manja dan gemuk-gemuk. Keriangan suasana itu, sungguh merupakan keriangan yang tak tergantikan oleh keriangan apapun.

Tetapi, ibu, kekasihku bernama Liana itu tidak sudi kunikahi jika aku tidak mapan secara materi. Ia tidak sudi mempersuamikan lelaki pengarang berbakat pas-pasan seperti aku. Ia tidak mau menikah dengan pria miskin.

***

Malam keesokan harinya, aku memutuskan tidur lebih awal, berusaha tidur, tepatnya. Sebab, setahun belakangan, aku mengidap insomnia akut yang membuatku hampir tidak pernah tidur pada malam hari. Tidur benar-benar menjadi sesuatu yang sangat mahal dalam hidupku. Dan anehnya, kondisi ini tidak pernah membuatku merasa tertekan secara emosional, tidak membuatku lelah. Aku menikmatinya seperti sebuah anugerah. Bahkan, ketika suatu malam aku menyusuri jalan setapak di sepanjang aliran sungai, dan akhirnya sampai pada sebuah gubuk di tengah ladang, aku bersyukur sekali. Aku bersyukur karena aku bisa mengunjungi sebuah tempat yang suasananya mirip seperti lanskap kampungku. Tapi, ketika seekor ular muncul dari semak-semak, aku terguncang dan menjadi sadar bahwa aku sedang melamun di dalam kamarku.

Ketika hal ini kuceritakan pada seorang sahabat, ia berkata bahwa itu halusinasi akibat kurang tidur. Aku percaya. Dan peristiwa telepon yang berdering malam sebelumnya, sebuah halusinasi jugakah? Mungkin. Dan itulah sebabnya mengapa aku memutuskan tidur lebih awal setelah pada sore harinya kukuras tenaga dengan bermain badminton. Aku berharap, dengan kondisi tubuh yang lelah, aku bisa lebih mudah tertidur. Tapi harapanku meleset. Hingga pukul dua dini hari, aku tidak juga bisa tidur. Dan tiba-tiba, pada saat aku gelisah memikirkan ibu, ponsel berdering. Aku tersentak. Tubuhku gemetar. Kucubit lenganku untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Lalu, dengan dada yang berdegup kencang, kuterima telepon, “Halo….”

Dan di seberang, kudengar percakapan ini:

“Maukah kau menerima Liana dalam keadaan susah maupun senang, sakit atau sehat, hingga maut memisahkan?” seorang lelaki bersuara berat bertanya.

“Ya,” jawab seorang lelaki.

“Liana, maukah kau menerima Sarja dalam keadaan susah maupun senang, sakit atau sehat, hingga maut memisahkan?” seorang lelaki bersuara berat itu bertanya lagi.

“Tidak,” jawab seorang perempuan. Tiba-tiba kudengar suara gaduh serupa umpatan dan bisik-bisik dari mulut banyak orang. Kumatikan telepon itu. Ini benar-benar gila.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku berdoa, “Tuhan, ada apa dengan otakku. Tolong, tolong jangan biarkan aku menjadi gila.”

Setelah mengucapkan doa itu, ponsel berdering lagi. “Halo……..”

“Nah, begitu dong. Aku seneng kamu berdoa. Doamu kukabulkan. Kau tidak akan gila.”

“Keparat. Siapa kau?”

“Bah, berani kau memaki Tuhan.”

“Anjing!” kataku seraya melemparkan ponsel itu ke lantai. Dan aku merasa lega ketika kusaksikan ponsel itu pecah dan serpihannya berserakan di lantai. “Ha ha, mampus kau, ponsel sialan.”

Pada saat itu, pintu kamarku diketuk. “Siapa?”

“Aku, Niko.” Ternyata tetanggaku.

“Ada apa?”

“Boleh aku masuk?”

Kubukakan pintu.

“Kudengar suara berisik dari kamarmu. Aku terbangun. Boleh kutahu apa yang terjadi?” tanyanya.

“Ponsel sialan ini menggangguku. Lihat, ia sudah kupecahkan hingga tak berbentuk,” kataku sambil menunjuk pecahan-pecahan ponsel itu di lantai. Kawan itu geleng-geleng kepala.

“Kurasa kau butuh seorang psikiater.”

“Apa kau kira aku gila, ha?”

“Aku tidak mengatakan sepeti itu. Aku hanya memberi saran. Tingkahmu makin aneh saja belakangan ini.”

“Katakan. Katakan di mana letak keanehanku?”

“Sudahlah, kawan. Kau sakit. Kau memerlukan seseorang yang bisa merawatmu,” kata kawan itu sambil menepuk pundakku. Aneh, tiba-tiba saja aku merasa damai.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Boleh kau ceritakan apa-apa saja keanehanku?”

“Kau sering mengira ponselmu berbunyi, tapi tidak. Ketika kau angkat, kau dengar suara-suara aneh di seberang, tapi sebenarnya hal itu tidak terjadi.”

“Tapi aku merasa hal itu benar-benar terjadi?”

“Tidak, kawan. Semua itu tidak pernah terjadi.”

“Lantas?”

“Semua bermula sejak dua tahun yang lalu. Sejak kau membeli ponsel itu. Ibumu sering menelepon dan bertanya kapan kau menikah. Kapan kau pulang dan membawa menantu kepada mereka?”

“Bukankah itu hal yang sangat wajar?”

“Ya, itu sangat wajar. Tapi bagimu, itu menyakitkan.”

“Menyakitkan?”

“Lupakah kau, kawan, bahwa perempuan yang kau kasihi itu telah tiada?”

“Tidak. Liana masih hidup.”

“Liana sudah pergi. Dia sudah pergi enam tahun yang lalu, sebulan menjelang kau membawanya kepada ayah dan ibumu, setengah tahun menjelang kau berencana menikahinya. Ingat-ingatlah, kerusuhan itu telah merenggut nyawanya. Dan seperti percaya pada kekuatan talenta yang diberi Tuhan, kau memutuskan diri jadi pengarang, tapi hingga saat ini tetap gagal. Sebab sebetulnya kau tak berbakat, kau hanya ingin lari dari frustasi dan kecewa yang dalam. Ayolah, kawan, bangkitlah, lupakan semuanya. Hidup ini masih teramat panjang untuk disia-siakan.”

“Hei, kau mengguruiku?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau realistis. Lihat hidupmu, setiap hari kau bertindak seperti orang gila. Dan kuharap, malam ini kau bisa tidur. Sudah tiga malam kau tak tidur,” kata kawan itu seraya berlalu dari kamarku.

Sepeninggalnya, aku berusaha menata pikiran dan merenungkan sekuat mungkin apa-apa yang baru saja dikatakan kawan itu. Dan, tiba-tiba aku terserang kantuk, dan tertidur.

Esok harinya ketika bangun menjelang sore, pikiranku sedikit jernih. Aku segera mandi, dan kurasakan tubuhku sangat segar. Sungguh, sudah sangat lama aku tidak pernah merasakan tubuh sesegar ini. Dan, tiba-tiba aku teringat pada ibu. Aku ingin sekali meneleponnya. Tapi, ketika kusadari ponsel sudah hancur, aku mengutuk diri kenapa aku harus membantingnya tadi malam. Oh, aku ingat, aku masih punya sedikit tabungan. Sore itu aku pergi membeli ponsel bekas, sebab untuk membeli ponsel baru, uangku tidak cukup.

Dan malam harinya, kutelepon ibu dengan perasaan gembira. “Halo ibuku yang cantik, apa kabar?”

“Oh, anakku sang pengelana. Ibu baik-baik saja.“

“Bapa sehat juga kan?”

“Ya, semuanya sehat-sehat. Tapi, bapa sekarang makin sering uring-uringan. Ia mulai tak sabaran menunggu kapan kau membawa menantu buat kami. “

Pada saat ibu mengatakan itu, sesuatu tiba-tiba berderak di dalam otakku. Kepalaku seperti terbentur, tapi kutata pikiranku, sehingga aku masih bisa berkata, “Ibu dan bapa yang baik, aku masih ingin memusatkan perhatian dan pikiran untuk mengarang. Agar kelak, ketika aku menikah, aku sudah terkenal, dan pesta pernikahanku pasti lebih meriah. Oke, udah dulu ya, Ibu. Salam buat bapa jelek.”

Sesudah menutup telepon, aku tertawa, geli  membayangkan tingkahku barusan. Aku merasa seperti masih kanak-kanak. Di usia yang sudah tigapuluh lima ini? Ah…

Tapi, malam itu semangatku seperti terbangkitkan. Setelah selesai makan malam, aku menghidupkan komputer. Aku ingin menulis sebuah kisah. Kisah yang benar-benar terjadi dalam hidupku. Dan puji cerita, kisah ini selesai kutulis dalam waktu satu jam. Aku puas. Aku merasa bangga. Aku bahagia sekali. Tapi, beberapa menit kemudian, seluruh keriangan itu hancur terberai-berai ketika ponselku berdering. Kusambar ponsel itu, “Haloo…”

Di seberang, kudengar tangisan, jeritan, teriakan orang-orang, suara tembakan dan berakhir pada rintihan seorang wanita. Aku kenal suara itu. Suara itu adalah suara Liana. ***

Pekanbaru, 2004